ASIAWORLDVIEW – China berhasil mengembangkan “matahari buatan” melalui reaktor fusi nuklir bernama EAST (Experimental Advanced Superconducting Tokamak), yang mampu meniru proses energi di inti matahari.
Reaktor ini berlokasi di Hefei dan menggunakan magnet superkonduktor untuk mengurung plasma bersuhu ultra-panas. Plasma tersebut dapat mencapai suhu lebih dari 100 juta derajat Celsius, jauh melampaui inti matahari, dan baru-baru ini berhasil dipertahankan selama 1.066 detik (sekitar 17 menit 46 detik). Pencapaian ini menandai rekor baru dalam penelitian fusi nuklir, sebuah teknologi yang diyakini sebagai sumber energi masa depan karena bersih, aman, dan berkelanjutan.
Dengan meningkatkan kepadatan plasma dan mengendalikan kontaminan dari material dinding reaktor, para peneliti berharap dapat memperbaiki efisiensi fusi sehingga suatu hari bisa menghasilkan listrik dalam skala besar. EAST sering disebut sebagai “matahari buatan” karena prinsip kerjanya meniru reaksi fusi hidrogen yang terjadi di matahari, dan keberhasilan ini memberi harapan besar bahwa energi fusi dapat menjadi solusi jangka panjang untuk kebutuhan energi dunia.
EAST, yang sering disebut sebagai “matahari buatan” China, adalah tokamak yang berlokasi di Hefei dan menggunakan magnet superkonduktor untuk mengurung plasma ultra-panas. Secara sederhana, kepadatan plasma yang lebih tinggi memungkinkan lebih banyak reaksi fusi terjadi. Masalahnya, dalam kebanyakan tokamak, meningkatkan kepadatan terlalu jauh menyebabkan ketidakstabilan, membuat plasma hancur dan berinteraksi dengan dinding reaktor. Batas ini umumnya dikaitkan dengan batas Greenwald.
Baca Juga: China Percepat Pengembangan Yuan Digital, Siap Diluncurkan 2026
Tim di balik EAST percaya bahwa masalahnya bukan hanya seberapa padat plasma menjadi. Menurut peneliti di Institut Fisika Plasma, Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, batas kepadatan plasma erat kaitannya dengan kontaminan yang masuk ke dalam plasma, terutama partikel logam yang dilepaskan dari dinding dalam reaktor. Tungsten, yang banyak digunakan dalam perangkat fusi, diidentifikasi sebagai kontributor utama.
Untuk memahami dan mengendalikan efek ini dengan lebih baik, para peneliti mengembangkan model yang disebut Boundary Plasma-Wall Interaction Self-Organization (PWSO). Mereka kemudian menguji teori ini pada EAST menggunakan pemanasan resonansi siklotron elektron bersama dengan metode startup gas yang telah diisi sebelumnya. Perubahan ini membantu mengurangi dampak tungsten di tepi plasma.
Dengan tingkat kontaminan yang lebih terkendali, plasma dapat bergerak ke zona stabil “density free zone,” beroperasi di luar batas tradisional tanpa memicu gangguan. Hasil eksperimen sesuai dengan prediksi model PWSO.
Temuan yang diterbitkan di Science Advances ini memberikan panduan baru untuk merancang reaktor fusi berdensitas tinggi di masa depan. Meskipun tenaga fusi komersial tetap menjadi tujuan jangka panjang, penelitian ini mengatasi salah satu tantangan praktis yang menghambat kemajuan dalam fusi konfinemen magnetik.
