Pertumbuhan Ekonomi Menguat, Inflasi Terjaga

Bank Indonesia.

ASIAWORLDVIEW – Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2025 yang berada pada kisaran 4,7 hingga 5,5 persen menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional diperkirakan tetap solid di tengah dinamika global. Momentum positif ini diprediksi berlanjut pada tahun berikutnya, dengan pertumbuhan yang meningkat ke kisaran 4,9–5,7 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (17/12/2025) menyebutkan,”pertumbuhan ekonomi yang tercatat positif tersebut terutama didukung oleh stabilitas harga di dalam negeri yang tetap terjaga.”

Kenaikan tersebut mencerminkan optimisme terhadap stabilitas konsumsi domestik, investasi yang terus menguat, serta dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang menjaga daya beli dan iklim usaha. Jika berbagai faktor pendukung seperti stabilitas harga, peningkatan produktivitas, dan penguatan sektor industri dapat dipertahankan, maka ekonomi nasional berpotensi tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang.

Baca Juga: BI: Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi Dorong Pemulihan Ekonomi

Inflasi pada November 2025 yang tercatat sebesar 2,72 persen secara tahunan (yoy) menunjukkan bahwa tekanan harga secara umum masih berada dalam batas yang terkendali. Angka ini dipengaruhi terutama oleh inflasi kelompok komoditas inti yang tetap stabil di level 2,36 persen yoy, mencerminkan kondisi permintaan domestik yang relatif terjaga dan tidak mengalami lonjakan signifikan.

Stabilnya inflasi inti juga menandakan bahwa faktor-faktor fundamental seperti harga barang dan jasa non-volatil—termasuk pendidikan, kesehatan, dan perumahan—berjalan dalam pola yang konsisten. Dengan inflasi inti yang terjaga, risiko tekanan harga berlebihan dapat diminimalkan, sehingga memberikan ruang bagi kebijakan ekonomi untuk tetap mendukung pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas harga.

“Inflasi pada November 2025 tercatat sebesar 2,72 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dipengaruhi oleh inflasi kelompok komoditas inti yang terjaga di level 2,36 persen yoy,” ia menambahkan.

Walaupun inflasi kelompok komoditas dengan harga diatur pemerintah (administered prices) terjaga rendah di 1,58 persen (yoy), pihaknya menyoroti inflasi kelompok komoditas dengan harga bergejolak (volatile food) yang masih relatif tinggi sebesar 5,48 persen (yoy). Tingginya inflasi volatile food tersebut terutama disumbang oleh komoditas bawang merah akibat keterbatasan pasokan karena gangguan cuaca dan kenaikan harga benih.

“BI optimistis inflasi volatile food dapat tetap terkendali melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional,” pungkasnya.

Sedangkan inflasi inti juga diperkirakan akan tetap rendah seiring ekspektasi inflasi yang terjaga dalam sasaran, kapasitas ekonomi yang masih besar, imported inflation (inflasi yang bersumber dari luar negeri) yang terkendali, serta dampak positif dari digitalisasi.

“Bank Indonesia meyakini inflasi (secara keseluruhan) pada tahun 2026 mendatang tetap terjaga rendah dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen,” tutupnya.