ASIAWORLDVIEW – Pasar tenaga kerja di Indonesia masih menjadi tantangan bagi kesejahteraan rumah tangga, terutama karena kualitas pekerjaan yang tersedia belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Indikator pasar tenaga kerja menunjukkan bahwa banyak generasi muda menghadapi kesulitan dalam memperoleh pekerjaan yang layak, baik dari segi pendapatan, stabilitas, maupun prospek karier jangka panjang.
“Inilah kenapa saat ini jadi momen krusial untuk memadukan stabilitas makroekonomi Indonesia, sebagai salah satu kekuatan utamanya, dengan reformasi struktural yang lebih mendalam,” kata Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste Carolyn Turk di Jakarta, Selasa (16/12/2025).
Kondisi ini membuat sebagian besar pekerja muda terjebak dalam pekerjaan informal atau berupah rendah, sehingga daya beli dan kesejahteraan keluarga ikut tertekan. Situasi tersebut menegaskan perlunya peningkatan kualitas lapangan kerja melalui investasi pada pendidikan, keterampilan, serta kebijakan yang mendorong penciptaan pekerjaan produktif dan berkelanjutan.
Bank Dunia mencatat bahwa sejak 2018, upah riil di Indonesia mengalami tren penurunan, sehingga daya beli masyarakat ikut melemah. Pada saat yang sama, jumlah pekerjaan dengan keterampilan menengah justru menyusut, sementara lapangan kerja yang tersedia lebih banyak berada di sektor berupah rendah maupun berupah tinggi.
Baca Juga: Ekonomi Indonesia Tangguh, Bank Dunia Prediksi Pertumbuhan Naik 5,2%
Ketidakseimbangan ini menimbulkan kesenjangan di pasar tenaga kerja dan berdampak langsung pada konsumsi rumah tangga, karena sebagian besar pekerja tidak memperoleh pendapatan yang cukup untuk menjaga pola belanja mereka. Situasi tersebut menunjukkan perlunya kebijakan yang mendorong penciptaan pekerjaan berkualitas, terutama di segmen keterampilan menengah, agar kesejahteraan masyarakat dapat meningkat secara lebih merata.
“Tujuannya cukup jelas, yakni meningkatkan kapasitas perekonomian serta memungkinkan sektor swasta menciptakan lapangan kerja dengan upah yang lebih baik bagi generasi muda Indonesia,” ia menambahkan.
Salah satu fokus reformasi yang disoroti Bank Dunia dalam laporannya adalah penguatan fondasi digital nasional sebagai kunci mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Upaya ini mencakup pembangunan jaringan pita lebar (broadband) yang lebih luas dan merata untuk meningkatkan akses internet, pengembangan infrastruktur pusat data (data center) guna memperkuat kapasitas penyimpanan serta keamanan data, serta penyusunan kerangka regulasi digital yang jelas dan adaptif agar ekosistem teknologi dapat berkembang secara sehat. Dengan fondasi digital yang kuat, Indonesia diharapkan mampu memperluas inklusi digital, mendorong inovasi, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat daya saing di era ekonomi berbasis teknologi.
“Kami meyakini bahwa Indonesia dapat mendorong pertumbuhan produktivitas yang lebih cepat dan memperluas peluang ekonomi dengan memperkuat kualitas serta jangkauan infrastruktur digital. Infrastruktur digital yang lebih kuat akan menciptakan peluang kerja baru, baik di sektor digital maupun melalui efek pengganda ke seluruh perekonomian, khususnya bagi generasi muda dan perempuan, terutama di wilayah yang kurang beruntung dan paling terdampak oleh keterbatasan konektivitas,” tambahnya.
