Belanja Natal 2025 di Amerika Lesu, Konsumen Kurangi Pengeluaran

USD atau Dolar Amerika Serikat

ASIAWORLDVIEW – Menjelang Natal 2025, pembelian ritel di Amerika Utara menunjukkan tren lesu akibat tekanan ekonomi dan perubahan perilaku konsumen. Survei terbaru menunjukkan bahwa konsumen di Amerika Serikat berencana mengurangi pengeluaran musim liburan sekitar 5% dibandingkan tahun 2024, penurunan terbesar dalam lima tahun terakhir.

Konsumen di Amerika Utara dikenal memiliki kebiasaan belanja yang kuat, namun ketahanan mereka sepanjang tahun tetap tidak sebanding dengan demam belanja tahunan yang meletus di akhir setiap tahun. Pembeli menanti Hari Thanksgiving — dan penawaran Black Friday yang mengikuti — untuk membeli hadiah Natal dan memaksimalkan anggaran mereka sebanyak mungkin.

Faktor utama yang memengaruhi adalah inflasi, ketidakpastian ekonomi, dan beban biaya hidup yang membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam berbelanja. Deloitte memperkirakan pertumbuhan penjualan ritel liburan hanya sekitar 2,9% hingga 3,4%, lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 4,2%. Meski 92,8% orang dewasa tetap merayakan musim liburan, banyak konsumen memilih berbelanja lebih awal namun menunda pembelian besar hingga muncul diskon besar seperti Black Friday atau Cyber Monday, mengutip Forbes, Rabu (26/11/2025).

Baca Juga: Jelang Natal dan Tahun Baru, Harga Beras Dipastikan Stabil

Namun, ini bukan lagi soal waktu. Dengan inflasi yang memangkas pendapatan yang dapat dibelanjakan, konsumen semakin menunda pembelian hingga diskon tersedia. Black Friday telah berubah dari pesta belanja impulsif menjadi latihan pengelolaan anggaran yang lebih strategis.

Musim liburan ini bukan lagi soal berfoya-foya, tetapi lebih tentang kebutuhan. Kecemasan ekonomi membentuk perilaku belanja, dan rumah tangga mulai memprioritaskan barang-barang esensial daripada barang-barang diskresioner dan mewah.

Pembeli berpendapatan tinggi sudah mengurangi pembelian mereka, dan konsumen muda masih kesulitan mencari pekerjaan, yang menyebabkan penghematan lebih lanjut dari pembeli berpendapatan tinggi tradisional. Ditambah dengan laporan tentang laju pemutusan hubungan kerja (PHK) tertinggi sejak 2003, seperti yang tercantum dalam laporan terbaru Challenger Layoffs report, menunjukkan bahwa krisis ekonomi mungkin sudah di depan mata.