Yen Jepang Terus Melemah, Risiko Utang dan Inflasi Jadi Sorotan

Mata uang Jepang, Yen.

ASIAWORLDVIEW – Yen Jepang (JPY) juga turun 157,20 per dolar AS, pergerakan besar untuk mata uang fiat utama. Langkah ini mendorong para pedagang valuta asing (FX) untuk menanti intervensi dari Bank of Japan (BOJ) guna menghentikan penurunan tersebut.

Secara historis, pelemahan yen terkait dengan sentimen risiko tinggi — ketika trader meminjam yen dengan suku bunga rendah di Jepang dan mengonversinya menjadi mata uang lain, seperti dolar AS, untuk berinvestasi dalam aset berimbal hasil tinggi. Aktivitas ini menekan nilai yen.

Pelemahan yen lebih lanjut memperkuat dinamika ini, karena artinya fewer dolar diperlukan untuk melunasi pinjaman yen, sehingga meningkatkan keuntungan keseluruhan dari carry trades.

Sebaliknya, penguatan yen secara historis mengurangi daya tarik carry trades dan menandakan sentimen risk-off yang luas. Misalnya, selama krisis Agustus 2024, bitcoin turun dari sekitar $65.000 menjadi USD50.000 dalam seminggu. Hal ini terjadi saat Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam satu dekade, mendorong yen naik.

Baca Juga: Jepang Perketat Regulasi Kripto, Langkah Baru Cegah Manipulasi Pasar

Wajar jika secara instingtif berpikir bahwa penurunan terbaru yen merupakan kabar baik bagi BTC dan aset berisiko secara umum. Pasalnya, suku bunga resmi BOJ saat ini sebesar 0,5%, dibandingkan dengan 4,75% di AS, menciptakan insentif kuat untuk carry trade. Ada laporan bahwa investor ritel Jepang mengejar lira Turki yang berimbal hasil tinggi.

Namun, Jepang, yang menghadapi masalah utang, tidak lagi menawarkan lingkungan makroekonomi stabil yang pernah menjadi dasar peran yen sebagai mata uang carry dan safe haven. Kenyataan ini menantang kemungkinan lonjakan luas dalam perdagangan carry yang didanai yen dan sentimen risiko di pasar keuangan, termasuk BTC dan altcoin.

Jepang merupakan salah satu negara paling berutang di dunia, dengan rasio utang terhadap PDB sekitar 240%. Kekhawatiran tentang hal ini semakin meningkat di tengah lonjakan inflasi pasca-COVID dan janji Perdana Menteri terpilih untuk menerapkan kebijakan fiskal ekspansif, yang berarti lebih banyak pinjaman, penerbitan utang, dan imbal hasil yang lebih tinggi. Hari ini saja, pemerintah menyetujui paket stimulus fiskal senilai USD135 miliar.