ASIAWORLDVIEW – Museum NFT Seattle, yang dibuka pada tahun 2022 di tengah ledakan popularitas aset digital, dikenal sebagai museum pertama di dunia yang didedikasikan khusus untuk NFT (Non-Fungible Tokens). Namun, seiring dengan meredanya hype pasar seni digital yang sempat merajai ruang kreatif global, museum ini menghadapi tantangan dalam mempertahankan kredibilitas dan relevansi di mata publik, mengutip The Seattle Times, Selasa (11/11/2025).
Volatilitas pasar NFT membuat institusi seperti Museum NFT Seattle kadang-kadang sulit untuk dianggap serius, terutama ketika nilai dan minat terhadap karya digital berbasis blockchain mengalami fluktuasi tajam.
Baca Juga: Pasar NFT Terus Melemah, Koreksi Harga dan Volume Picu Kekhawatiran Investor
Sebelumnya, selebriti rela membayar harga fantastis untuk karya seni yang tersimpan di blockchain kripto. Ketika museum Belltown secara diam-diam menutup pintunya pada Desember lalu, di tengah-tengah krisis pasar NFT global, beberapa orang melihatnya sebagai simbolisme dunia nyata yang tepat.
Meski begitu, museum ini tetap menjadi simbol penting dari era eksperimental seni digital, berusaha mengedukasi dan merayakan inovasi kreatif di tengah perubahan lanskap teknologi dan budaya.
Pasar NFT memang menurun, tapi belum mati. Seniman, termasuk beberapa di Seattle, mengatakan teknologi ini masih menarik audiens baru — dan pendapatan. Museum NFT sendiri justru memperkuat posisinya.
Pendiri industri teknologi museum ini mengatakan penutupan hanya sementara sambil mencari lokasi baru yang lebih besar untuk puluhan monitor TV dan peralatan lainnya.
