ASIAWORLDVIEW – Labu telah lama menjadi simbol ikonik Halloween, namun kubis kini muncul sebagai alternatif unik dan kreatif untuk dekorasi musiman. Dengan daunnya yang berlapis, warna hijau dan ungu yang misterius, serta bentuk bulat alami, kubis menawarkan estetika unik yang sempurna untuk dekorasi seram.
Kubis dapat dicat, diukir, atau dihias untuk menyerupai wajah hantu, makhluk menyeramkan, atau bahkan properti taman yang ajaib. Berbeda dengan labu, kubis sering diabaikan, menjadikannya tambahan yang mengejutkan dan lucu dalam dekorasi Halloween. Kemampuannya yang serbaguna memungkinkan tema rustik maupun surreal, membuktikan bahwa bahkan sayuran yang sederhana pun dapat menjadi bintang dalam kreativitas perayaan.
Sayuran ini merupakan komponen dari colcannon, hidangan tradisional Irlandia yang populer dikonsumsi pada Halloween. Colcannon menjadi hidangan utama yang dimakan orang Amerika pada Halloween di abad ke-19 setelah imigran membawa tradisi tersebut. Colcannon bukan hanya hidangan yang dimakan saat makan malam — itu juga merupakan makanan ramalan nasib, mengutip History.

Orang Irlandia biasanya menyembunyikan berbagai barang di dalam hidangan sebelum memasaknya, dan apa pun yang muncul di porsi Anda menandakan nasib Anda untuk tahun mendatang. Misalnya, menemukan koin berarti Anda akan menjadi kaya. Menemukan jarum jahit dalam hidangan berarti Anda tidak akan pernah menikah.
Wanita muda yang belum menikah juga percaya bahwa menarik kubis dari ladang pada malam Halloween dapat mengungkapkan detail tentang suami masa depan mereka. Jika sayuran tersebut keluar dengan banyak tanah menempel pada akarnya, itu berarti suami kaya akan datang dalam waktu dekat. Batang kubis yang layu menandakan bahwa orang yang menariknya akan menikahi duda.
Percaya atau tidak, kubis yang sederhana juga memiliki hari raya sendiri, dengan tradisi kuno yang masih dilestarikan di beberapa bagian dunia. Dikenal sebagai “malam kubis,” perayaan ini awalnya dirayakan pada Halloween.
Malam kubis berasal dari Skotlandia dan Belanda, serta memiliki akar di Britania Raya. Tradisi ini masih dilestarikan di sebagian wilayah Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris, di mana pemuda melakukan tindakan tipu daya dan kenakalan — meskipun kehadiran kubis tampaknya telah menghilang, digantikan dengan alat-alat kenakalan modern seperti kertas toilet dan krim cukur.
