Indonesia Bidik Posisi Pusat Industri Halal Dunia, Generasi Muda Jadi Motor Inovasi

Halal Indonesia

ASIAWORLDVIEW – Kementerian Perindustrian terus mendorong Indonesia untuk menjadi pusat industri halal global. Hal itu dilakukan dengan mengedepankan inovasi dan keterlibatan aktif generasi muda. Upaya ini mencakup pengembangan ekosistem industri halal yang berkelanjutan, mulai dari produk makanan dan minuman, kosmetik, hingga farmasi dan fesyen muslim. Generasi muda dianggap sebagai motor penggerak utama dalam menciptakan solusi kreatif dan teknologi baru yang relevan dengan kebutuhan pasar halal global.

Staf Ahli Menteri Perindustrian untuk Percepatan Transformasi Industri 4.0, Emmy Suryandari, pada Jumat (26/9/2025), menyampaikan bahwa berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Apalagi populasi Indonesia didominasi oleh Generasi Z dan milenial yang produktif dan inovatif.

“Ini adalah momen yang tepat bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam pengembangan industri nasional,” ujarnya.

Baca Juga: Label Halal Jadi Magnet Bisnis Global, Indonesia Ambil Peran Sentral

Melalui pelatihan, inkubasi bisnis, dan kolaborasi lintas sektor, pemerintah berupaya menciptakan lingkungan yang mendukung lahirnya startup dan pelaku industri halal muda yang kompetitif. Strategi ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru yang inklusif dan berbasis nilai-nilai etis.

Ia menjelaskan bahwa standarisasi halal tidak lagi terbatas pada aspek agama dan budaya, tetapi telah menjadi jaminan kualitas, transparansi, dan keamanan produk. Menurut laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2024/2025, pengeluaran konsumen Muslim global diperkirakan tumbuh sebesar 5,3 persen per tahun, dari USD2,43 triliun pada 2023 menjadi USD3,36 triliun pada 2028.

“Namun, meskipun memiliki populasi Muslim mayoritas, Indonesia saat ini menempati peringkat kesembilan di antara eksportir produk halal ke negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI),” ia menabahkan.

Sebaliknya, beberapa negara non-Muslim, seperti China, India, dan Brasil, mendominasi pasar ekspor produk halal. Untuk mencapai tujuan tersebut, Suryandari mencatat bahwa Kementerian Perindustrian, bersama beberapa kementerian dan lembaga, sedang menyiapkan kebijakan fiskal, pengawasan, dan infrastruktur halal.