Prosedur Balon Jadi Penyelamat Pasien Penyakit Jantung Tersumbat

Ilustrasi dokter dan tenaga medis melakukan operasi pada pasien.(freepik)

ASIAWORLDVIEW – Penyakit jantung akibat penumpukan plak lemak, kolesterol, dan zat lain—dikenal sebagai aterosklerosis—banyak dialami oleh individu dengan gaya hidup tidak sehat, terutama mereka yang memiliki pola makan tinggi lemak jenuh, kurang aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok.

Kelompok usia lanjut lebih rentan karena proses penumpukan plak berlangsung secara bertahap seiring waktu, namun kini semakin banyak kasus ditemukan pada usia muda akibat stres kronis, obesitas, dan konsumsi makanan olahan. Orang dengan riwayat keluarga penyakit jantung, tekanan darah tinggi, atau diabetes juga memiliki risiko lebih tinggi.

Ketika aliran darah ke jantung terganggu, pasien dapat mengalami gejala seperti nyeri dada (angina), sesak napas, atau bahkan serangan jantung. Prosedur balon bertujuan untuk membuka kembali arteri yang menyempit dengan cara mengembangkan balon kecil di dalam pembuluh darah, sehingga plak terdorong ke dinding arteri dan ruang aliran darah menjadi lebih luas.

Dr. Rony M. Santoso, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dalam acara PRIMAYA CARDIOVASCULAR CONFERENCE 2025 “Beat for Life, Love Your Heart, Sabtu (20/9/2025), menjelaskan mengenai prosedur balon atau angioplasti koroner dilakukan untuk mengatasi penyempitan atau sumbatan pada arteri koroner yang menghambat aliran darah ke otot jantung. Tindakan ini penting untuk memulihkan suplai oksigen ke jantung, mengurangi gejala, dan mencegah kerusakan jantung lebih lanjut.

“Proses ini dilakukan dengan memasukkan kateter kecil yang ujungnya dilengkapi balon ke dalam arteri melalui pembuluh darah di lengan atau paha. Setelah mencapai area yang tersumbat, balon dikembangkan untuk menekan plak ke dinding arteri, sehingga aliran darah ke jantung kembali lancer,” ia mengatakan.

Baca Juga: Fibrilasi Atrium Meningkat di Usia Muda, Gaya Hidup Tak Sehat Jadi Pemicu Utama

Posedur ini diakukan utuk menjaga agar arteri tetap terbuka setelah balon dikempiskan dan kateter dikeluarkan. Prosedur ini umumnya dilakukan tanpa operasi besar dan hanya membutuhkan waktu pemulihan yang relatif singkat, menjadikannya pilihan efektif untuk mengatasi nyeri dada (angina) dan mencegah serangan jantung.

“Dalam banyak kasus, prosedur ini juga disertai pemasangan stent untuk menjaga agar arteri tetap terbuka dalam jangka panjang. Angioplasti menjadi pilihan utama karena bersifat minim invasif, cepat, dan efektif dalam menurunkan risiko komplikasi kardiovaskular,” ia mengatakan.

Prosedur ini biasanya dilakukan dengan anestesi lokal dan tidak memerlukan operasi terbuka, sehingga waktu pemulihan relatif cepat. Angioplasti koroner efektif untuk meredakan gejala seperti nyeri dada (angina), meningkatkan aliran darah ke jantung, dan mencegah serangan jantung yang lebih serius di masa depan.

“Prosedur angioplasti koroner terbukti efektif dalam mengatasi penyempitan arteri koroner dan memperbaiki aliran darah ke jantung. Secara signifikan dapat meredakan gejala seperti nyeri dada (angina), sesak napas, dan kelelahan, serta menurunkan risiko serangan jantung mendadak,” jelasnya.

Efektivitasnya semakin meningkat ketika dikombinasikan dengan pemasangan stent, yang membantu menjaga arteri tetap terbuka dalam jangka panjang. Angioplasti juga memiliki keunggulan karena bersifat minim invasif, dilakukan tanpa operasi besar, dan memungkinkan pasien pulih lebih cepat dibandingkan dengan bedah bypass jantung. Meski tidak menyembuhkan penyakit jantung koroner secara total, prosedur ini sangat bermanfaat sebagai bagian dari strategi pengelolaan penyakit jantung, terutama bila disertai perubahan gaya hidup dan terapi medis lanjutan.