Kepercayaan Publik terhadap Bank Indonesia: Pilar Stabilitas di Tengah Gejolak Ekonomi

Mata uang Rupiah.(freepik)

ASIAWORLDVIEW – Survei Bank Indonesia (BI) menunjukkan peningkatan kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi pada Juli 2025. Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) naik menjadi 118,1 dari 117,8 pada Juni, tetap berada dalam zona optimis (indeks di atas 100).

“Peningkatan kepercayaan konsumen pada Juli 2025 terutama didorong oleh kenaikan Indeks Harapan Konsumen (IHK),” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Jumat (8/8/2025).

Kepercayaan ini juga didukung oleh reputasi Bank Indonesia sebagai lembaga yang independen dan berkomitmen menjaga kestabilan sistem keuangan nasional. Selain itu, transparansi dalam komunikasi kebijakan, seperti publikasi rutin data ekonomi dan laporan keuangan, turut memperkuat persepsi positif masyarakat. Meski tantangan ekonomi global terus berkembang, kepercayaan terhadap Bank Indonesia tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi domestik.

Menurut survei, IHK pada Juli mencapai 129,6, naik dari 128,9 pada Juni. Peningkatan CEI didukung oleh kenaikan Indeks Ekspektasi Pendapatan (IEI) dan Indeks Ekspektasi Ketersediaan Pekerjaan (JAEI), yang masing-masing mencapai 136,4 dan 125,0, naik dari 133,2 dan 124,1 pada bulan sebelumnya.

Baca Juga: Bank Indonesia Catat PDB Indonesia Tumbuh 4,87%

Sementara itu, Indeks Ekspektasi Aktivitas Bisnis (BAEI) berada pada level optimis 127,5, lebih tinggi dari pembacaan 124,1 pada bulan sebelumnya.

Indeks Kondisi Ekonomi (ECI) untuk Juli tercatat sebesar 106,6—relatif stabil dibandingkan dengan 106,7 pada bulan sebelumnya, kata Prakoso.

Menurut BI, stabilitas ECI didukung oleh Indeks Pendapatan Saat Ini (CII) dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (DGPI), yang tetap berada di zona optimis dengan angka 117,8 dan 106,6 masing-masing.

Meskipun Indeks Ketersediaan Pekerjaan (JAI) naik menjadi 95,3, indeks ini tetap berada di zona pesimistis. Survei BI yang sama juga menunjukkan bahwa rata-rata kecenderungan untuk mengonsumsi pada Juli mencapai 75,4 persen, naik dari 75,1 persen pada Juni.