ASIAWORLDVIEW – Menurut laporan 2025 5G Success Index dari konsultan global Kearney, teknologi 5G kini memasuki fase penting yang disebut “Impact Era”—sebuah titik balik di mana operator telekomunikasi mulai menuai hasil dari investasi besar mereka selama bertahun-tahun.
“Impact Era” menandai transisi dari fase pembangunan infrastruktur ke fase komersialisasi dan monetisasi. Artinya, operator tidak lagi hanya fokus pada peluncuran jaringan, tetapi mulai mengembangkan layanan bernilai tambah dan model bisnis baru berbasis 5G.
“Indonesia memiliki kesempatan untuk melampaui pasar lain dalam hal ketersediaan spektrum. Spektrum frekuensi yang kini tersedia untuk operator telekomunikasi belum ideal untuk 5G. Namun, sudah ada diskusi tentang pelepasan 700 MHz, 2,6 GHz, dan 3,5 GHz yang lebih relevan untuk 5G,” sebut Carlos Oliver Mosquera, Partner di Kearney Singapura dan Head Kearney Technology Center of Excellence, dikutip Asiaworldview.com, Jumat (18/7/2025).
Baca Juga: Huawei Integrasi 5.5G dan Penerapan AI, Ubah Masa Depan Jaringan dan Layanan Digital
Impact Era bukan hanya soal teknologi, tapi soal strategi monetisasi, kesiapan ekosistem, dan kebijakan spektrum. Indonesia punya peluang besar untuk mengejar ketertinggalan dan bahkan melampaui negara lain jika momentum ini dimanfaatkan secara optimal.
“Jika regulator dapat merilis spektrum ini secara bersih, hal ini akan menjadi perubahan besar. Hal ini memungkinkan karena semua spektrum tersebut merupakan alokasi greenfield. Dengan demikian, operator dapat memperoleh spekturum berkualitas tinggi yang akan meningkatkan kapasitas dan kualitas jaringan,” ia menambahkan.
Penetrasi 5G di Indonesia masih rendah, hanya 2% sejak peluncuran pada 2021. Hambatan utama yaitu keterbatasan spektrum, minimnya stasiun pemancar, dan jaringan fiber optic yang belum memadai.
Komersialisasi 5G dapat mendorong pertumbuhan ekonomi digital, industri 4.0, dan layanan publik berbasis AI. Indonesia punya potensi besar jika regulator merilis spektrum 700 MHz, 2,6 GHz, dan 3,5 GHz secara bersih—semuanya merupakan alokasi greenfield yang ideal untuk 5G. Konsumsi data per pelanggan di Indonesia diperkirakan meningkat dari 13 GB menjadi 42 GB pada 2030.
