ASIAWORLDVIEW – Kenaikan biaya hidup di Indonesia tahun 2025 menjadi tantangan nyata bagi banyak rumah tangga. Menurut laporan terbaru YouGov, separuh masyarakat Indonesia menyebut pengeluaran mereka meningkat, terutama untuk bahan makanan yang mencapai 34 persen.
Peningkatan tersebut juga terjadi untuk pendidikan, sebesar 25 persen. Bahkan, tabungan dan kebutuhan finansial sebanyak 24 persen. Meski tekanan ekonomi meningkat, dua dari tiga orang Indonesia tetap optimistis terhadap masa depan finansial mereka
Lembaga riset konsumen global tersebut mengungkap bagaimana masyarakat Indonesia menghadapi tekanan ekonomi dengan mengubah cara mereka menabung, berutang, dan berinvestasi. Temuan ini mencerminkan masyarakat yang semakin berhati-hati, semakin melek digital, dan mencari kestabilan di tengah ketidakpastian.
Baca Juga: Jakarta Targetkan Pertumbuhan Ekonomi hingga 6%
Edward Hutasoit, General Manager YouGov Indonesia mengatakan, “Sebagai lembaga riset konsumen global dengan pemahaman lokal yang mendalam, YouGov berkomitmen untuk membantu para pemangku kepentingan dalam membaca pergeseran perilaku berbasis data yang handal. Temuan ini tidak hanya menyorot tren ekonomi, tapi juga mencerminkan bagaimana masyarakat menyesuaikan diri di tengah perubahan.”
Untuk menghadapi tekanan biaya hidup, banyak masyarakat menjadikan pinjaman sebagai solusi. Lebih dari setengah responden (54%) mengambil pinjaman dalam 12 bulan terakhir, terutama dari kalangan Milenial (59%) dan Gen X+ (58%). Sumber digital dan informal mendominasi: 36% mengaku semakin sering menggunakan pinjaman online atau menjual barang berharga. Sementara itu, lebih dari seperempat responden melaporkan peningkatan penggunaan kredit bank (28%), layanan Pay Later (27%), dan pinjaman dari keluarga atau teman (27%).
Survei daring ini dilakukan terhadap 2.067 responden dewasa yang mewakili populasi online nasional, studi ini menggambarkan bagaimana masyarakat bertahan di tengah pendapatan yang stagnan dan pengeluaran yang meningkat selama setahun terakhir. Laporan yang sama juga menunjukkan bahwa optimisme tetap kuat, dengan banyak responden mengambil langkah nyata agar tetap bertahan secara finansial.
