ASIAWORLDVIEW – Defisit perdagangan Indonesia dengan China meningkat tajam dalam empat bulan pertama tahun 2025. Nilai defisit mencapai USD 6,28 miliar, jauh lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya USD 3,02 miliar.
Kondisi ini dipicu oleh lonjakan impor barang dari China yang mencapai USd 25,77 miliar, naik 22,44%, sementara ekspor Indonesia ke China hanya tumbuh 7% menjadi USD 18,87 miliar. Komoditas utama yang menyebabkan defisit terbesar adalah mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta kendaraan dan bagiannya
Menteri Perdagangan Budi Santoso telah menepis anggapan bahwa tarif Amerika Serikat (AS) atas barang-barang China mendorong Beijing untuk mengalihkan ekspor ke Asia Tenggara. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), negara itu mencatat defisit perdagangan USD6,3 miliar dengan China dari Januari hingga April 2025, dibandingkan dengan $3 miliar selama periode yang sama tahun lalu.
Impor dari China melonjak 22,4 persen tahun-ke-tahun menjadi USD25,8 miliar. Sementara ekspor Indonesia ke China hanya tumbuh 7 persen, mencapai USD18,9 miliar. Impor Indonesia dari China sebagian besar terdiri dari mesin mekanik, peralatan listrik, dan kendaraan beserta suku cadangnya.
Baca Juga: Detik-Detik Kemendag Ungkap Jutaan Barang Impor Ilegal berkat Iklan TikTok
Menteri Budi mengatakan neraca perdagangan antara Indonesia dan China cenderung berfluktuasi dari waktu ke waktu dan memperingatkan agar tidak menarik kesimpulan yang terburu-buru.
Surplus Perdagangan Indonesia Anjlok hingga USD160 Juta pada April di Tengah Melonjaknya Impor Ia berpendapat, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ekspor China yang ditujukan untuk pasar AS dialihkan ke Indonesia sebagai respons atas kenaikan tarif baru-baru ini oleh Washington.
“Pengalihan ekspor atau transshipment dapat dilacak melalui sertifikat asal. Sejauh ini, belum ada tanda-tanda perubahan seperti itu,” ia menambahakan.
Ia mengakui bahwa kinerja ekspor Indonesia secara keseluruhan menurun pada Maret dan April, yang ia kaitkan dengan gangguan yang disebabkan oleh libur Idul Fitri yang diperpanjang. Ia menambahkan bahwa lingkungan perdagangan global saat ini, termasuk tindakan proteksionis AS, telah membuat banyak eksportir Indonesia lebih berhati-hati karena mereka menunggu kepastian pasar yang lebih besar.
