ASIAWORLDVIEW – Asia Tenggara telah berkembang dari sekadar komunitas gaming menjadi pusat industri esports global.Hal itu berdasarkan laporan terbaru dari bertajuk “Let’s Play! 2024 Esports Market”
Esports telah menjadi bagian dari hiburan mainstream, dengan turnamen besar dan dukungan dari pemerintah. Jangkauan audiens yang tinggi, ekosistem berbasis perangkat mobile, dan integrasi kuat dengan budaya digital.
Tak bisa dipungkiri, esports menjadi bagian dari budaya mainstream, terutama di kalangan Gen Z dan milenial, yang mencakup 81% dari total penonton esports.
Asia Tenggara mencatat salah satu tingkat jangkauan esports tertinggi secara global, dengan Vietnam dan Malaysia sebagai pemimpin utama dalam industri ini. Dengan pertumbuhan pesat ini, Asia Tenggara menjadi pasar esports yang sangat potensial.
Baca Juga: REVIEW: Garena Delta Force Mobile, Pengalaman Gaming Taktis Fenomenal
Vietnam memiliki tingkat kesadaran esports tertinggi di kawasan ini, mencapai 94%, dengan 59% dari populasi secara aktif menonton esports. Malaysia juga memiliki basis penggemar esports yang besar, dengan turnamen dan komunitas yang berkembang pesat.
Sementara, Indonesia menunjukkan dominasinya dalam Free Fire World Series (FFWS) SEA 2025 Spring, dengan beberapa tim esports Tanah Air berhasil masuk 5 besar klasemen pada babak Knockout Stage. Selain itu, ONIC dan Vesakha Sriwijaya juga berjuang di peringkat 13 dan 14, masing-masing dengan 330 dan 317 poin.
Indonesia memiliki jumlah penonton esports terbanyak, mencapai 17 juta orang pada 2021. Babak Knockout Stage Fase 2 akan menjadi penentu bagi tim Indonesia untuk lolos ke Grand Finals, dengan format baru yang lebih menantang.
Pertumbuhan industri esports di Asia Tenggara diperkirakan mencapai 20,8% CAGR (2019-2024), jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan global yang hanya 11,1%. PUBG Mobile dan Mobile Legends menjadi game esports paling populer di kawasan ini.
