ASIAWORLDVIEW – Beberapa negara telah memanfaatkan kuliner sebagai soft power untuk membangun citra budaya di dunia. Konsep ini dikenal sebagai gastrodiplomasi. Penggunaan makanan sebagai alat diplomasi budaya dan identitas nasional, seperti rendang.
Indonesia juga mulai mengembangkan gastrodiplomasi melalui berbagai inisiatif, seperti Indonesia Gastrodiplomacy Series, yang bertujuan meningkatkan citra Indonesia di mata internasional dengan mempromosikan kuliner Nusantara.
Ia menekankan bahwa banyak negara telah memanfaatkan kuliner sebagai soft power untuk membangun citra budaya mereka secara global, seperti yang dilakukan Korea Selatan.
“Seperti kita ketahui, kuliner dapat menjadi salah satu bentuk diplomasi internasional. Potensinya sangat besar, tetapi juga memiliki tantangan yang besar karena belum terintegrasinya sektor hulu hingga hilir secara solid,” kata Harsya dalam keterangan tertulis.
Baca Juga: PAUL Plaza Senayan Tampil Lebih Ceria untuk Indonesia
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyatakan bahwa subsektor kuliner memiliki potensi besar sebagai alat diplomasi untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia. Ia menekankan bahwa kuliner bisa menjadi alat diplomasi yang efektif untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia
Dalam audiensi dengan Dewan Kuliner Indonesia, Teuku Riefky mendukung inisiatif untuk memperkuat daya saing kuliner Indonesia di pasar internasional. Ia juga mendorong integrasi yang lebih solid dari hulu ke hilir dalam industri kuliner agar dapat berkembang lebih baik
Ia menyampaikan bahwa banyak negara yang telah memanfaatkan tradisi kulinernya sebagai soft power tools untuk mempromosikan budayanya secara global. Ia mencontohkan Korea Selatan yang kulinernya telah mendunia dan bahkan memengaruhi selera konsumen di Indonesia.
