Acaraki Jamu Festival 2025 Menyulut Semangat Baru Warisan Budaya

acaraki jamu festival

Acaraki Jamu Festival 2025 hadir di tengah hiruk-pikuk Kota Tua Jakarta dengan membawa semangat baru untuk menjaga tradisi sambil merangkul inovasi. Festival ini mengajak lintas generasi untuk kembali merasakan makna jamu, bukan sekadar sebagai minuman kesehatan, tetapi sebagai identitas budaya yang terus hidup.

“Festival ini bukan hanya soal menikmati jamu. Ini tentang bagaimana kita menjaga ruang budaya tetap relevan dan berkelanjutan,” ujar perwakilan dari Acaraki.

Selama ini, Acaraki memang bergerak di persimpangan warisan dan inovasi, menyajikan jamu dengan pendekatan kontemporer tanpa meninggalkan akarnya.

Salah satu wajah utama di festival ini adalah sosok Mbok Jamu Gendong. Mereka bukan sekadar ikon, tapi representasi nyata dari kegigihan perempuan Indonesia dalam merawat kesehatan masyarakat dan menjaga warisan budaya turun-temurun.

Mbok Jamu Gendong sebagai ikon Acaraki jamu Festival 2025 (Sumber: Aurelia Lois)

“Kami mengangkat Mbok Jamu Gendong sebagai simbol keberanian dan ketulusan dalam menjaga tradisi di tengah perubahan zaman,” tambah pihak Acaraki.

Festival ini juga mempertegas bahwa jamu bukan hanya bagian dari keseharian, tetapi juga sudah diakui dunia. Sejak 2023, jamu resmi tercatat sebagai warisan budaya tak benda dunia versi UNESCO.

Di setiap racikannya, terkandung filosofi harmoni antara manusia dan alam, serta nilai-nilai tentang keseimbangan dan pencegahan dalam menjaga kesehatan.

Pengunjung festival diajak ikut serta dalam berbagai kegiatan seru seperti Fun Walk 2,5K sambil membawa bakul jamu, Kreasi Jamu Gendong, hingga menikmati beragam varian jamu gratis di Free Flow Jamu Booth.

“Kami ingin membentuk komunitas baru, mempertemukan penikmat jamu, pelaku industri, dan pecinta budaya dalam satu ruang yang hidup,” ujar salah satu inisiator Acaraki.

Baca juga: Bangga, Ada Wakil Indonesia di Gelaran Coffee Festival 2025

Acaraki Jamu Festival 2025 akan Diadakan Kembali

Acaraki Jamu Festival 2025 (Sumber: Aurelia Lois)

Kolaborasi Acaraki dengan Larutan Penyegar Cap Badak dan GP Jamu Indonesia memberi warna lebih kuat pada festival ini. Larutan Penyegar Cap Badak, yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari keseharian masyarakat, kini ikut mengusung misi yang sama, yakni merawat budaya dan kesehatan.

“Ini lebih dari sekadar acara jalan sehat biasa. Ini momentum menggabungkan budaya dan kesehatan dalam satu perayaan,” kata perwakilan dari Larutan Penyegar Cap Badak.

Sebagai bagian dari kampanye Dasa Windu, Larutan Penyegar Cap Badak memperkenalkan kemasan baru bertema batik. Tidak sekadar menempelkan motif, mereka mengangkat makna di balik batik seperti Parikesit yang melambangkan perjuangan menuju kesuksesan.

“Kami ingin anak muda lebih peduli pada budaya Indonesia lewat pendekatan yang dekat dengan keseharian mereka,” tambahnya.

Setelah Kota Tua, rangkaian Acaraki Jamu Festival akan berlanjut ke Sarinah pada 25 Mei 2025. Di sana, festival akan meramaikan Car Free Day dengan parade Mbok Jamu Gendong, memperkenalkan kembali tradisi jamu dalam suasana yang akrab dan penuh semangat.

Festival ini dirancang berkesinambungan hingga puncaknya pada Agustus 2025, bertepatan dengan perayaan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Puncak acara akan mempertemukan semangat budaya, inovasi, dan kebanggaan nasional dalam satu perayaan besar.

“Tradisi bukan untuk dipajang, tetapi untuk terus dihidupkan dan bergerak bersama zaman,” ujar perwakilan GP Jamu Indonesia.