ASIAWORLDVIEW – Ketika Amerika Serikat (AS) bersiap untuk menerapkan tarif baru, pasar kripto mengalami peningkatan volatilitas. Perkembangan terbaru yang melibatkan China, Jepang, dan Korea Selatan dapat berkontribusi lebih lanjut terhadap ketidakpastian pasar.
Negara tersebut telah sepakat untuk menanggapi Trump Tariff secara bersama-sama, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana ketegangan perdagangan global akan mempengaruhi pasar kripto. Dengan rencana tarif “Hari Pembebasan” dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di depan mata, pertanyaan-pertanyaan membayangi masa depan Bitcoin dan mata uang kripto lainnya.
Baca Juga: Harga Bitcoin Goyah di Tengah Ancaman Trump Tariff
China, Jepang, dan Korea Selatan dilaporkan telah mengonfirmasi bahwa mereka akan bekerja sama dalam menangani tarif AS, yang akan diberlakukan pada awal April. Tarif-tarif ini menargetkan beberapa industri, termasuk sektor otomotif dan farmasi. Langkah ini dilakukan menyusul ancaman AS untuk memberlakukan tarif tambahan yang disebut Presiden Donald Trump sebagai ‘Hari Pembebasan’, yang akan terjadi pada 2 April 2025.
Selain itu, ketiga negara tersebut merupakan mitra dagang penting Amerika, dan tarif ini dapat mempengaruhi stabilitas sektor ekonomi mereka. Kerja sama ini mengindikasikan bahwa mereka telah membentuk aliansi strategis untuk melindungi tujuan ekspor dan keuntungan ekonomi mereka.
Pengumuman ini muncul setelah para menteri perdagangan dari ketiga negara tersebut bertemu dalam upaya untuk mengintensifkan kerja sama sehingga mengurangi efek dari kebijakan Amerika Serikat. Namun, ketegangan dalam isu perdagangan bahkan mungkin akan berlanjut.
