Riset: Petualangan Rasa Dorong Inovasi Perkembangan Industri Makanan dan Minuman

Makanan dan minuman yang tersaji.(Pexel/@Alexy Almond)

ASIAWORLDVIEW – Inovasi rasa berkembang pesat saat profil rasa konsumen bergeser. Laporan “The Future of Flavours 2025” Mintel menyoroti tren yang muncul yang mendorong industri makanan dan minuman – mulai dari munculnya selera petualangan dan pengaruh global hingga dampak AI dan keberlanjutan pada pengembangan rasa.

Konsumen saat ini lebih suka be petualang dari sebelumnya.Di China, 40% konsumen mengatakan mereka “mencari makanan/rasa baru untuk mencoba sebagian besar waktu”, sementara 23% konsumen Korea Selatan berbagi antusiasme ini.

Permintaan penemuan rasa ini membuka peluang bagi merek untuk memperkenalkan selera yang berani dan terinspirasi secara global. Minat dalam rasa internasional meningkat, dengan 34% konsumen Australia dan 33% konsumen Thailand menyatakan minat dalam mencoba rasa dari budaya lain. Pada saat yang sama, konsumen mengharapkan manfaat kesehatan fungsional tanpa mengorbankan kesenangan, menjadikannya penting bagi merek untuk menyeimbangkan inovasi rasa dengan formulasi yang digerakkan oleh kesehatan.

Baca Juga: Tips Minum Kopi Susu Tanpa Rasa Bersalah

Dalam waktu dekat, penambah rasa akan memainkan peran penting dalam meningkatkan pengalaman makanan dan minuman. Mereka dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang beragam, termasuk mereka yang memiliki gangguan rasa – area di mana inovasi tetap terbatas. Faktor-faktor seperti kondisi kesehatan, obat-obatan, penuaan, dan bahkan Covid-19 dapat mempengaruhi persepsi rasa, menciptakan peluang bagi merek untuk mengatasi kesenjangan ini.

Perdebatan tentang rasa buatan dan alami tetap ada. Menurut Mintel Research, lebih dari sepertiga (34%) konsumen AS mengatakan klaim seperti “bebas dari perasa buatan” dan “bebas dari warna buatan” mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Merek perlu menavigasi persepsi konsumen, pertimbangan biaya, tantangan keberlanjutan, dan persyaratan peraturan untuk mencapai keseimbangan yang tepat.

Sementara itu, inovasi tekstur menjadi semakin penting, dengan merek menawarkan pengalaman multisensor untuk meningkatkan daya tarik produk. Sementara tekstur seperti kerenyahan dapat memberi sinyal kesehatan, mereka juga dapat dikaitkan dengan indulgensi. Dengan demikian, penggunaan tekstur strategis akan menjadi kunci.

Ke depan, keberlanjutan akan menjadi pendorong utama dalam sumber rasa dan produksi. Dampak perubahan iklim akan mengharuskan adopsi tanaman yang tahan iklim dan sumber bahan yang beragam dari daerah seperti Asia dan Afrika. Pergeseran ini selaras dengan pola pikir konsumen yang lebih luas – melihat keberlanjutan sebagai masalah kesehatan dan sumber daya masyarakat daripada hanya masalah lingkungan. Menurut Laporan Global Mintel tentang Keberlanjutan 2024-2025, 46% konsumen India dan 30% konsumen Jepang percaya bahwa perusahaan dapat melakukan lebih dari pemerintah untuk mengubah dunia.