ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah telah melemah ke level terendah sejak krisis keuangan Asia 1998, mencapai Rp16.640 per dolar AS pada 25 Maret 2025. Pelemahan ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk ketegangan perdagangan global, kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal Indonesia, dan ketidakpastian ekonomi global.
Rupiah juga dilaporkan tertekan oleh ketegangan perdagangan global yang baru dan kekhawatiran investor atas kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump.
Selain itu, kebijakan populis pemerintah dan tekanan pada Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar juga turut memengaruhi situasi ini.
Baca Juga: Bank Indonesia Pastikan Nilai Tukar Rupiah Masih Terkendali
Bank Indonesia telah melakukan intervensi di pasar mata uang untuk meredam pelemahan lebih lanjut, tetapi tekanan dari faktor eksternal dan domestik tetap menjadi tantangan
Para analis mengutip meningkatnya kekhawatiran atas tarif mobil yang akan diberlakukan oleh Washington, yang diisyaratkan oleh Trump akan berlaku bulan depan, dengan pengecualian selektif.
Kemerosotan rupiah ini mirip dengan krisis keuangan Asia tahun 1998, ketika mata uang ini jatuh dari sekitar Rp 2.400 per dollar AS menjadi Rp 16.500 dalam hitungan bulan, yang memicu gejolak ekonomi dan politik di Indonesia. Saat ini, fundamental ekonomi dan stabilitas politik Indonesia tetap kuat kendati baru-baru ini terjadi protes besar-besaran terhadap revisi undang-undang militer dan demonstrasi ‘Indonesia Gelap’ atas pemotongan anggaran pemerintah dan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
