ASIAWORLDVIEW – Pasar saham AS kehilangan nilai sebesar USD4 triliun dalam sehari pada perdagangan, melansir Reuters. Tiga indeks saham utama Wall Street yaitu S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones Industrial Average masing-masing mengalami penurunan lebih dari 2% dalam satu hari tersebut. Sektor teknologi menjadi salah satu yang paling terpukul dengan indeks S&P 500 sektor teknologi turun 4,3%. Apple dan Nvidia masing-masing turun sekitar 5% sedangkan Tesla melemah lebih dari 15%.
Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin mengatakan fenomena tersebut mengindikasikan kemungkinan sedang terjadinya upaya penyesuaian portofolio besar-besaran yang terjadi di kalangan investor dan aset manajer.
“Potensi stagflasi yang diindikasikan dengan pertumbuhan ekonomi lambat dan inflasi tinggi serta resesi ekonomi AS yang kembali terbuka di tengah upaya pengetatan anggaran pemerintah dan kebijakan impor Trump, membuat investor untuk sementara mungkin lebih memilih mengalokasikan aset di instrumen risk-off. Masih minimnya kejelasan terkait resolusi dari potensi risiko tersebut membuat tekanan yang ada di pasar saham AS saat ini mungkin masih akan bertahan selama beberapa saat,” ungkap Fahmi dikutip Asiaworldview.com, Rabu (12/3/2025).
Baca Juga: Analis Reku: Kebijakan Trump Pengaruhi Pasar Kripto dan Saham AS
Lebih dari itu, Delta Air Lines memotong proyeksi laba akibat ketidakpastian ekonomi, dan
investor beralih ke aset safe-haven seperti obligasi pemerintah AS. Sementara di pasar
kripto, Bitcoin turun sekitar 5% sedangkan Ethereum turun 10% lebih, meningkatkan
tekanan likuidasi di tengah tingginya volatilitas pasar. Laporan inflasi CPI AS yang akan
dirilis pada 12 Maret dan ancaman shutdown pemerintah semakin menambah ketegangan
pasar.
Di pasar kripto, lanjut Fahmi, koreksi harga Bitcoin di bawah USD80.000 yang terjadi saat ini mungkin menjadi peluang akumulasi bagi investor institusi, khususnya jika Bitcoin
dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
“Meskipun demikian, altcoin, terutama yang terkait proyek AI atau teknologi, mungkin akan lebih rentan terkoreksi lebih dalam akibat valuasi yang terlalu optimis dan korelasinya
dengan sentimen saham-saham AS di sektor teknologi seperti Nvidia. Kedepan, laporan
inflasi dan perkembangan kebijakan fiskal AS akan menjadi katalis utama,” lanjutnya.
