Puasa Ramadan di Negara Terdingin di Dunia Islandia

Salah satu sudut Islandia.

ASIAWORLDVIEW – Islandia, sebuah negara kecil Nordik yang terkenal dengan pemandangan alamnya yang menakjubkan, gletser, dan Aurora borealis. Untuk komunitas Muslim kecil di sana, Ramadhan adalah waktu yang sangat bermakna namun unik.

Dengan populasi Muslim hanya sekitar 1.500 dari total populasi Islandia kurang dari 400.000, Ramadhan di Islandia diamati dengan semangat persatuan dan ketahanan. Meskipun merupakan minoritas, komunitas Muslim di Islandia telah menemukan cara untuk beradaptasi dan berkembang, mengubah tantangan menjadi peluang untuk pertumbuhan spiritual dan pembangunan masyarakat.

Waktu puasa di Islandia 16 jam 29 menit. Sahur dilaksanakan pada pukul 03.42 dini hari, dan berbuka puasa dilaksanakan pada pukul 20.11 malam.

Masjid Reykjavik, satu -satunya masjid di Islandia, berfungsi sebagai pusat pusat kegiatan keagamaan selama bulan suci ini. Ini bukan hanya tempat ibadah tetapi juga pusat budaya dan sosial di mana umat Islam berkumpul untuk merayakan iman dan tradisi mereka.

Baca Juga: Ramadan di ASHTA District 8: Gabungkan Seni, Budaya, dan Belanja

Salah satu tantangan paling signifikan yang dihadapi oleh Muslim di Islandia selama Ramadhan adalah durasi siang hari yang panjang. Terletak di dekat Lingkaran Arktik, Islandia mengalami fenomena “Midnight Sun” selama bulan -bulan musim panas.

Ketika Ramadan jatuh di musim panas, matahari dapat terlihat selama hampir 24 jam sehari. Ini menghasilkan periode puasa yang sangat lama, kadang-kadang berlangsung 21 hingga 22 jam sehari. Bagi umat Islam, ini merupakan tantangan yang unik, karena puasa dari fajar hingga matahari terbenam menjadi menuntut secara fisik.

Untuk mengatasi hal ini, komunitas Muslim di Islandia mengikuti fatwa (putusan agama) yang dikeluarkan oleh para sarjana setempat, yang merekomendasikan untuk mematuhi waktu puasa negara-negara mayoritas Muslim terdekat, seperti Turki atau Maroko, atau mengikuti masa matahari terbenam dan matahari terbit di Makkah.

Keputusan ini memungkinkan mereka untuk mengamati puasa lebih nyaman tanpa mengalami kelaparan dan haus selama hampir sepanjang hari. Adaptasi ini menyoroti fleksibilitas dan ketahanan komunitas Muslim di Islandia, karena mereka menemukan solusi praktis untuk mempertahankan kewajiban agama mereka.