ASIAWORLDVIEW – Niangao–ada juga yang menyebutnya Nian Gao–atau kue keranjang menjadi sajian wajib saat Festival Musim Semi atau Imlek. Memiliki tekstur yang unik, lengket, dan rasa manis.
Jika di Indonesia sering kali disebut mirip dodol. Kue ini melambangkan peningkatan rezeki dari tahun ke tahun. Beberapa versi ada yang kenyal, sementara yang lain lebih keras. Ada yang menyukainya digoreng dengan telur, ada pula yang menikmatinya secara langsung.
Nian gao, diyakini diciptakan sebagai persembahan kepada Dewa Dapur, yang dipercaya bersemayam di setiap rumah. Menurut cerita rakyat, Dewa Dapur membuat “laporan tahunan” kepada Kaisar Giok di akhir tahun. Untuk mencegahnya menjelek-jelekkan rumah mereka, orang-orang mempersembahkan niangao, yang akan menutup mulutnya. Oleh karena itu, niangao dipersiapkan untuk dipersembahkan sebelum Tahun Baru Imlek.
Baca Juga: Makna Tradisi Memberikan Angpao saat Imlek

Legenda mengatakan bahwa, setelah kematian Wu Zixu (伍子胥, 559-484 SM), seorang jenderal dan politikus kerajaan Wu pada Periode Musim Semi dan Musim Gugur (771-476 SM), raja Yue, Goujian, menyerang ibu kota Wu, dan tentara Wu serta warga terjebak di kota dan tidak ada makanan. Banyak orang mati kelaparan selama pengepungan.
Pada saat itu, seseorang teringat akan kata-kata Wu Zixu yang sangat membantu: “Jika negara sedang dalam kesulitan dan rakyat membutuhkan makanan, pergilah dan gali tiga meter di bawah tembok kota dan dapatkan makanan.” Para prajurit melakukan apa yang diinstruksikan Wu Zixu dan menemukan bahwa fondasi tembok dibangun dengan batu bata khusus yang terbuat dari tepung ketan. Makanan ini menyelamatkan banyak orang dari kelaparan. Batu bata ini adalah niangao asli.
Setelah itu, orang-orang membuat niangao setiap tahun untuk memperingati Wu Zixu. Seiring berjalannya waktu, niangao menjadi apa yang sekarang dikenal sebagai kue Tahun Baru Imlek.
Kue keranjang juga dipercaya bisa mendatangkan rezeki dan keberuntungan jika diberikan sebagai hadiah kepada teman dan kerabat. Jadi, niangao ini bukan hanya makanan lezat, tapi juga penuh dengan makna budaya dan harapan yang baik.
