Rokok Vape Ternyata Juga Bikin Kecanduan

Vape

ASIAWORLDVIEW – Dalam dekade terakhir, penggunaan rokok elektrik telah meningkat secara dramatis di Indonesia. Berawal dari hanya setengah juta pengguna pada tahun 2011, jumlah ini kini telah berkembang menjadi lebih dari 6 juta orang pada tahun 2021, menurut Global Adult Tobacco Survey Indonesia. Angka itu merupakan peningkatan dari 0,3% menjadi 3% populasi yang memilih rokok elektrik dibandingkan dengan tembakau tradisional.

Tren ini menunjukkan tidak ada tanda-tanda melambat. Analis pasar di Statista memprediksi industri vape Indonesia akan mencapai US$0,4 miliar pada tahun 2024, tumbuh secara stabil selama lima tahun ke depan. Situasi pasar telah berkembang melampaui hanya rokok elektrik untuk mencakup produk baru seperti tembakau panas dan kantong nikotin, terutama yang menarik pengguna muda.

Baca Juga: Makanan Tradisional Ternyata Simpan Gizi yang Baik untuk Tubuh

Meskipun produk-produk ini semakin populer, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyoroti pertimbangan kesehatan penting yang perlu diperhatikan, terutama mengenai dampaknya pada anak muda Indonesia. Aturan dan peraturan saat ini mungkin perlu diperbarui untuk mengatasi pertumbuhan yang cepat ini.

Rokok vape, seperti merokok tradisional, memicu kecanduan fisik dan psikologis, terutama didorong oleh kecanduan nikotin. Ketergantungan fisik berasal dari keinginan tubuh untuk nikotin, yang, jika tidak terpenuhi, menyebabkan gejala penarikan seperti perubahan perilaku, emosi, persepsi, dan kesadaran.

Di luar kecanduan nikotin, vaping memenuhi kebutuhan psikologis, sering dikaitkan dengan mekanisme mengatasi stres atau pengaruh sosial di mana jutaan pengguna rokok elektrik melaporkan ingin berhenti tetapi merasa sulit tanpa adanya sistem pendukung yang tepat. Orang dewasa muda khususnya rentan terhadap vaping karena tekanan teman sebaya atau tren gaya hidup.