Viral Peserta JRF 2026 Diduga Henti Jantung, Ini Cara Mencegah Risiko Saat Lari Jarak Jauh

ASIAWORLDVIEW – Viral di media sosial, seorang peserta Jakarta Running Festival (JRF) 2026 dilaporkan mengalami dugaan henti jantung saat mengikuti ajang lari tersebut pada Minggu (25/10/2026). Insiden itu terjadi di sekitar kilometer 30 dan langsung mendapat perhatian peserta serta petugas medis yang bertugas di lokasi. Berdasarkan informasi yang beredar, korban sempat mendapatkan penanganan darurat di area lomba sebelum dievakuasi menggunakan ambulans ke fasilitas kesehatan untuk menjalani perawatan lebih lanjut.

Kejadian tersebut cukup untuk memantik diskusi tentang bagaimana seharusnya kita mempersiapkan diri sebelum, selama, dan setelah berlari jarak jauh. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah lari itu sehat—karena jelas lari memberikan manfaat kardiometabolik yang besar—tetapi bagaimana mengelola risiko yang menyertainya, terutama bagi pelari rekreasi yang mungkin memiliki kondisi jantung tersembunyi yang belum terdeteksi.

Mengutip tulisan dr. Benedictus Hanjaya Suwandi dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta, secara medis, henti jantung mendadak saat berlari sering kali berakar pada kondisi yang tidak menunjukkan gejala sebelumnya. Sering kali terjadi saat sedang melakukan aktivitas fisik misalnya saat berolah raga, dan lebih sering kejadiannya pada pria daripada wanita. Pada atlet muda, penyebab kematian terbanyak adalah henti jantung, namun sampai saat ini angka insidensinya masih belum diketahui dengan pasti.

Pada pelari yang lebih muda, penyebab yang paling umum adalah kelainan struktur atau listrik jantung bawaan, seperti kardiomiopati hipertrofik, di mana penebalan otot jantung mengganggu sistem listrik dan dapat memicu fibrilasi ventrikel—kondisi di mana bilik jantung hanya bergetar dan tidak mampu memompa darah secara efektif.

Sementara itu, pada pelari yang lebih tua, penyakit jantung koroner yang tidak terdiagnosis menjadi penyebab utama, di mana plak yang menumpuk di arteri koroner membatasi aliran darah ke otot jantung, dan ketika kebutuhan oksigen meningkat drastis saat berlari, ketidakseimbangan ini dapat memicu aritmia yang fatal . Yang membuat situasi ini rumit adalah kenyataan bahwa banyak dari mereka yang mengalami kejadian ini tidak pernah merasakan gejala apa pun sebelumnya; henti jantung bisa menjadi manifestasi pertama dari masalah yang sudah lama ada.

Baca Juga: TACO Dukung Gaya Hidup Aktif dengan Area Recovery di JRF 2026

Pencegahan paling mendasar sebenarnya dimulai jauh sebelum garis start. Bagi siapa pun yang ingin mengikuti lari jarak jauh, terutama pelari pemula atau mereka yang berusia di atas 40 tahun, pemeriksaan kesehatan jantung pra-lomba bukanlah formalitas belaka. Pemeriksaan seperti elektrokardiogram (EKG), ekokardiografi, atau bahkan tes treadmill dapat membantu mengidentifikasi kelainan listrik atau struktural yang tidak terlihat dari luar.

Namun, sayangnya, belum ada standar skrining yang seragam dan mudah diakses untuk pelari rekreasi, sehingga kesadaran pribadi menjadi kunci. Jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan kematian mendadak di usia muda, sering merasa pusing atau nyeri dada saat berolahraga, atau pernah pingsan tanpa sebab yang jelas, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memaksakan diri mengikuti kompetisi.

Selain itu, pelatihan yang terstruktur dan bertahap—setidaknya 16 minggu dengan frekuensi empat hingga lima sesi per minggu—terbukti memberikan perlindungan kardiovaskular yang lebih baik dibandingkan pelari yang tidak terlatih. Biasanya, jika Anda memiliki risiko tinggi untuk mengalami henti jantung mendadak, dokter akan menyarankan untuk menghindari olah raga yang kompetitif. Namun demikian, tidak berarti Anda tidak diperbolehkan untuk berolah raga. Konsultasikan lebih lanjut kepada dokter mengenai batasan aktivitas fisik yang sesuai.

Selama perlombaan, mendengarkan tubuh adalah keterampilan yang sama pentingnya dengan menjaga pace. Dehidrasi yang mencapai 2 persen dari berat badan dapat memperburuk beban kardiovaskular, tetapi overhidrasi juga berbahaya karena dapat memicu hiponatremia. Panduan praktisnya adalah minum sekitar 400–800 mL per jam sesuai rasa haus, tanpa melebihi 3 liter total selama lomba.

Tak kalah penting adalah mengenali tanda-tanda bahaya: nyeri dada, sesak napas yang tidak proporsional, pusing, atau sensasi jantung berdebar tidak teratur adalah sinyal untuk segera berhenti, bukan untuk terus memaksakan diri. Sayangnya, budaya “finish or die” sering kali membuat pelari mengabaikan sinyal-sinyal ini, padahal berhenti di kilometer 30 jauh lebih baik daripada tidak pernah sampai di garis finis sama sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *