THE MOTHERLAND di JFW 2027, Warisan Budaya Indonesia dalam Tafsir Fashion Kontemporer

ASIAWORLDVIEW – Warisan budaya tidak hanya tersimpan dalam arsip atau benda bersejarah. Ia terus hidup melalui kain yang diwariskan, keterampilan perajin, serta busana tradisional yang dikenakan dan ditafsirkan ulang oleh generasi baru. Semangat inilah yang diangkat dalam THE MOTHERLAND, persembahan DEWI di Jakarta Fashion Week 2027.

Menghadirkan Adrie Basuki, DIGO Designs, dan Rinda Salmun, presentasi fashion ini menunjukkan bagaimana tekstil daur ulang, batik tulis, dan kebaya dapat menjadi medium untuk merayakan identitas Indonesia sekaligus menanggapi perubahan zaman. Ketiga desainer menawarkan pendekatan berbeda, tetapi bertemu pada gagasan bahwa tradisi tetap bermakna ketika diberi ruang untuk berkembang.

Adrie Basuki menghadirkan koleksi MAR/MER dengan filosofi What Remains, Refined. Berangkat dari Kain Marmer—tekstil daur ulang khas Adrie—koleksi ini mengeksplorasi nilai baru dari material yang telah memiliki riwayat penggunaan. Alih-alih menyamarkan jejak sebelumnya, desain mengolahnya menjadi bagian dari karakter dan keindahan kain.

Ia menggunakan teknik bordir, anyaman, patchwork, slashing, serta permainan lapisan dan bentuk. Kemudian menciptakan tekstur dan siluet yang terasa modern, sementara unsur wastra Indonesia, termasuk batik, muncul secara subtil.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kemewahan dalam fashion kontemporer tidak selalu bersumber dari material baru; proses transformasi dan keterampilan pengolahan juga dapat menjadi bagian penting dari nilai sebuah busana.

Melalui MAR/MER, Adrie mengembangkan gagasan Indonesian Circular Luxury yang bertumpu pada Material, Craft, dan Impact. Konsep tersebut menempatkan keberlanjutan lebih dari sekadar penggunaan kembali bahan. Di dalamnya terdapat penghargaan terhadap kriya Indonesia, kreativitas dalam mengolah material, serta perhatian pada manusia dan komunitas yang berperan dalam proses pembuatan.

Baca Juga: Ketika Aksesori Bukan Lagi Pelengkap, tapi Bintang Utama di JFW 2027

Tekstil daur ulang bukan hanya pilihan material, tetapi juga titik awal untuk bercerita tentang konsumsi yang lebih bertanggung jawab dan masa depan fashion Indonesia yang menghargai proses.

Sementara itu, koleksi Nganten 2027: Wisdom dari DIGO Designs berangkat dari perjalanan mencari batik di Yogyakarta. Pertemuan dengan Mbah Kawit, perempuan berusia lebih dari 80 tahun yang ditemui di Pasar Beringharjo, membuka ruang bagi sang desainer untuk memahami cerita dan doa di balik motif batik.

Pengalaman tersebut membangkitkan kenangan tentang sang oma yang telah berpulang, lalu berkembang menjadi penghormatan bagi para perempuan yang menjaga serta mewariskan pengetahuan lintas generasi. Dalam koleksi ini, batik tidak hanya berfungsi sebagai elemen visual, tetapi juga menjadi pembawa ingatan, nilai, dan hubungan personal dengan masa lalu.

Cerita tersebut diterjemahkan melalui siluet busana Jawa yang merujuk pada kebaya dan beskap dari penghujung abad ke-18. Detail seperti bukaan depan dan kancing kerang pada kebaya, kerah tinggi, serta bentuk bustier yang terinspirasi dari lengkungan paes Jawa diolah dalam pendekatan yang lebih kontemporer. DIGO Designs juga menggabungkan batik tulis dari Yogyakarta dengan taplak meja berbordir, potongan Battenberg lace, kain perca, serta kain lawas yang dikurasi dari toko lokal di Bali. Penggunaan material dengan riwayat berbeda ini membuat koleksi terasa personal sekaligus menegaskan bahwa busana dapat menjadi wadah bagi beragam cerita keluarga, tradisi, dan perjalanan kain.

Sementara, koleksi SRIKANDI 2027 dari Rinda Salmun mengangkat kebaya sebagai ruang untuk membicarakan identitas dan posisi perempuan. Terinspirasi oleh pemikiran R.A. Kartini dan sosok Srikandi, Rinda mempertanyakan anggapan bahwa kebaya hanya merepresentasikan kelembutan atau tradisi.

Dalam tafsirnya, kebaya juga dapat menjadi simbol keberanian, kemandirian, serta kebebasan perempuan dalam menentukan jati diri. Gagasan tersebut terlihat melalui dekonstruksi siluet kebaya, bahu yang tegas, struktur arsitektural, serta permainan volume dan panel berlapis. Inspirasi Beksan Srikandi diterjemahkan ke dalam garis dan konstruksi busana yang mencerminkan ketegasan serta keberanian menghadapi pertentangan.

Kedalaman sejarah dalam SRIKANDI 2027 diperkuat oleh penggunaan kain batik warisan keluarga dari trah Keraton Yogyakarta, GBPH Hadisuryo, putra Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Kain-kain tersebut direkonstruksi bersama wol hitam, teknik tailoring kontemporer, material deadstock, sisa bahan studio, serat Sorona, Sorona Twill, dan tekstil daur ulang. Pengembangan koleksi bersama pakar busana dari Keraton Yogyakarta turut membantu memperdalam pemahaman tentang filosofi dan fungsi unsur busana. Hasilnya, kebaya tampil dengan akar sejarah yang kuat sekaligus membuka kemungkinan baru bagi perempuan untuk mengekspresikan diri di luar definisi konvensional.

Melalui THE MOTHERLAND, Jakarta Fashion Week 2027 memperlihatkan bahwa warisan budaya Indonesia dapat terus hadir di dunia fashion tanpa harus dibekukan dalam bentuk yang sama. Kain daur ulang Adrie Basuki, batik penuh cerita dari DIGO Designs, dan kebaya dekonstruktif Rinda Salmun menjadi contoh bagaimana tradisi dapat ditafsirkan kembali melalui desain, teknik, dan sudut pandang yang beragam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *