Studi Terbaru Ungkap Vitamin B Bisa Kurangi Risiko Stroke

Makanan sehat dengan gizi seimbang, mencegah penyakit kardiovaskular dan stroke.

ASIAWORLDVIEW – Data terbaru menunjukkan bahwa stroke menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dengan angka mencapai sekitar 330.000–350.000 jiwa per tahun. Kondisi ini menempatkan stroke di atas penyakit jantung, kanker, maupun gagal ginjal sebagai faktor utama kematian.

Prevalensi kasus juga cukup tinggi, yakni 10,9 per 1.000 penduduk, sehingga menjadikannya masalah kesehatan masyarakat yang serius. Lebih mengkhawatirkan lagi, tren serangan stroke kini bergeser ke kelompok usia produktif sekitar 30-an tahun, dipicu oleh gaya hidup tidak sehat, beban kerja tinggi, serta faktor risiko utama seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi.

Pola makan dapat memainkan peran penting dalam mengurangi risiko stroke. Studi terbaru menyoroti satu kelompok nutrisi yang mungkin sangat bermanfaat, yaitu vitamin B.2 dikutip dari health, Minggu (13/9/2026).

Penelitian baru ini, yang diterbitkan dalam American Journal of Preventive Cardiology, secara khusus mengaitkan asupan vitamin B yang lebih tinggi dengan risiko stroke yang lebih rendah—namun hanya hingga tingkat tertentu.

Para peneliti menggunakan dua kumpulan data besar: Women’s Health Initiative (WHI) dan Program Penelitian All of Us dari National Institutes of Health. WHI melibatkan 121.565 wanita pascamenopause yang mengisi kuesioner frekuensi konsumsi makanan, sedangkan All of Us melibatkan sampel yang lebih beragam, yaitu 99.660 peserta dengan kadar vitamin B yang diukur dari sampel darah.

Dalam analisis WHI, asupan tiamin, riboflavin, niasin, piridoksin, dan folat yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko stroke yang 10% hingga 20% lebih rendah dibandingkan dengan tingkat asupan terendah. Data berbasis darah menunjukkan pola serupa, di mana kadar piridoksin dan folat yang lebih tinggi dikaitkan dengan penurunan risiko stroke.

Baca Juga: Vitamin D dan Omega-3, Suplemen Umur Panjang Nyaris Terlupakan

Namun, untuk semua vitamin B kecuali folat (yang terus menunjukkan hubungan dengan penurunan risiko pada asupan sekitar 2.000 setara folat makanan per hari), hubungan tersebut tampaknya hanya berlaku hingga titik konsumsi tertentu. Di atas tingkat tersebut, vitamin B tampaknya tidak lagi memberikan manfaat.

Asupan vitamin B yang lebih tinggi secara teoritis dapat membantu mencegah stroke karena nutrisi ini mendukung fungsi seluler dasar. Hal ini ternyata sangat penting bagi kesehatan otak dan pembuluh darah—keduanya berperan langsung dalam risiko stroke.

Simin Liu, MD, ScD, penulis utama studi ini dan direktur Center for Global Cardiometabolic Health & Nutrition di University of California, Irvine. mengatakan setiap vitamin B bekerja dengan cara yang sedikit berbeda, sehingga mekanisme pastinya kemungkinan besar akan bervariasi tergantung pada nutrisi spesifiknya.

Liu mencatat bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai risiko stroke dan vitamin B, serta bahwa temuan ini “tidak boleh dianggap sebagai lampu hijau untuk memulai regimen dosis tinggi vitamin B tambahan.” Hal ini terutama berlaku karena banyak vitamin B memiliki ambang batas asupan; jika melebihi batas tersebut, risiko stroke tampaknya meningkat kembali. Dengan kata lain, lebih banyak tidak selalu lebih baik, kata Matthew Landry, PhD, RDN, seorang ahli gizi di UC Irvine.

Vitamin B sangat penting untuk fungsi dasar tubuh, dan penting untuk memastikan Anda mendapatkannya dalam jumlah yang cukup. Jangan lupa, konsumsi sumber makanan—makanan seperti sayuran berdaun hijau, biji-bijian utuh, dan protein rendah lemak sangat kaya akan vitamin B. Karena proses pengolahan dapat menghilangkan beberapa vitamin B dari makanan, sebaiknya pilih makanan dalam bentuk utuh.

Makanan yang kaya vitamin B dapat diperoleh dari berbagai sumber hewani maupun nabati, sehingga penting untuk menjaga pola makan seimbang agar kebutuhan harian tercukupi. Dari sisi hewani, daging sapi menyediakan vitamin B12 dan B2 yang berperan dalam produksi sel darah merah dan metabolisme energi, sementara daging ayam kaya akan niasin (B3) dan tiamin (B1) untuk mendukung sistem saraf. Ikan seperti sarden, salmon, dan tuna menjadi sumber B6 dan B12 sekaligus memberikan omega-3 yang baik bagi jantung dan otak. Telur juga menjadi pilihan praktis karena mengandung biotin (B7), B5, dan folat, sedangkan produk susu seperti keju dan yoghurt kaya riboflavin (B2) dan B12.

Kerang serta tiram bahkan memiliki kandungan B12 yang sangat tinggi untuk kesehatan saraf. Dari sisi nabati, sayuran hijau seperti bayam dan brokoli kaya folat (B9), biji-bijian utuh seperti beras merah dan gandum menyediakan tiamin, riboflavin, niasin, dan folat, sementara kacang-kacangan seperti lentil dan kedelai mengandung folat, B1, dan B6. Kentang pun menjadi sumber B6 dan B3 yang mudah diolah. Karena tubuh tidak memproduksi vitamin B secara alami, asupan dari makanan sehari-hari sangat penting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *