Riset: Kulit Kepala Pria Lebih Rentan Ketimbang Wanita

CLEAR X PIT PERDOSKI

ASIAWORLDVIEW – Jika berbicara mengenai ketombe, kebanyakan dari kita mungkin langsung membayangkan serpihan putih yang membandel di pundak atau rasa gatal yang mengganggu aktivitas. Namun, di balik masalah yang tampak sepele ini, dunia dermatologi dan perawatan kecantikan modern mengungkap satu fakta menarik yang jarang disadari, pria secara biologis jauh lebih rentan terhadap ketombe dibandingkan wanita.

“Faktanya memang kulit kepala pria jauh lebih rentan terhadap ketombe dibandingkan wanita. Ini karena perbedaan struktural dan hormonal yang mendasar,” dr. Mufqi Handaru Priyanto, Sp.DVE menjelaskan saat membahas bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan menghadirkan Konsensus Terbaru di Kalangan Dermatologists: Bahwa Ketombe Bukan Semata-mata Disebabkan oleh Jamur, Melainkan Berakar pada Fungsi Scalp Barrier Terganggu.

Kulit kepala pria memiliki kondisi ideal bagi timbulnya masalah ini. Pria memiliki kadar hormon androgen yang jauh lebih dominan, dan hormon ini secara langsung merangsang kelenjar sebasea (kelenjar minyak) untuk memproduksi sebum atau minyak alami dalam jumlah yang lebih besar.

Baca Juga: Pakar: Ketombe Bukan Sekadar Jamur, Tapi Alarm Scalp Barrier

Kulit kepala pria sering kali berada dalam kondisi “berminyak berlebih” yang justru menjadi surga bagi jamur Malassezia—mikroorganisme yang secara alami hidup di kulit kepala, tetapi akan menjadi agresor saat populasinya tidak terkendali karena pasokan makanan (sebum) yang melimpah ruah.

Ilustrasi menggaruk kepala karena gatal akibat ketombe.(freepik)
Ilustrasi menggaruk kepala karena gatal akibat ketombe.(freepik)

“Ini adalah langkah awal dari sebuah reaksi berantai yang tidak nyaman, di mana jamur memecah sebum menjadi asam lemak bebas yang mengiritasi kulit kepala dan memicu respons peradangan,” ia menambahkan.

Selain itu, faktor struktural menjadi “kerentanan dari dalam” yang membuat pria sulit kabur dari masalah ketombe. Penelitian dermatologi menunjukkan bahwa lapisan kulit kepala pria memiliki kandungan ceramide yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan wanita.

Ceramide adalah komponen lemak alami yang berfungsi layaknya “perekat” atau “semen” yang mengikat sel-sel kulit di lapisan terluar (stratum corneum) sehingga membentuk skin barrier atau lapisan pelindung yang kokoh. Ketika jumlah ceramide berkurang, dinding pertahanan kulit kepala menjadi rapuh, retak secara mikroskopis, dan kehilangan kemampuan untuk mempertahankan kelembapan alami.

Kulit kepala yang kekurangan ceramide tidak hanya kering dan terasa tertarik, tetapi juga menjadi terlalu permeabel terhadap iritan eksternal dan polusi. Kondisi ini diperparah dengan tingginya aktivitas kelenjar minyak tadi—sebuah paradoks di mana kulit kepala terasa lepek berminyak namun secara intrinsik kekurangan komponen lipid esensial untuk menjaga hidrasi dan ketahanan, sehingga rentan terhadap iritasi dan peradangan kronis.

“Kombinasi produksi minyak berlebih dan lapisan pelindung yang lemah menciptakan ketidakseimbangan mikrobiota (ekosistem mikroorganisme) di kulit kepala. Lingkungan yang lembap, berminyak, dan memiliki pertahanan rendah menjadi lahan subur bagi pertumbuhan jamur dan bakteri jahat, sementara populasi mikroba baik justru tertekan. Peradangan ringan yang muncul secara terus-menerus merusak siklus regenerasi sel kulit, membuat proses pengelupasan sel-sel mati menjadi tidak teratur dan berlebiha. Inilah yang akhirnya tampak sebagai serpihan-serpihan putih khas ketombe yang mengganggu penampilan,” pungkasnya.

Perawatan untuk pria saat ini tidak bisa lagi sekadar mengandalkan sampo anti-ketombe keras yang justru mengikis habis minyak dan memperparah kekeringan, melainkan harus berupa strategi holistik yang menyeimbangkan produksi sebum, mengembalikan kadar ceramide melalui formula pelembap khusus, serta menenangkan peradangan untuk memulihkan ekosistem kulit kepala yang sehat dan tangguh secara berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *