ASIAWORLDVIEW – Bagi para pencinta petualangan yang selalu haus akan destinasi baru, Kementerian Pariwisata baru saja merilis sebuah “peta harta karun” yang tak boleh dilewatkan. “Infografis Statistik Pariwisata Tahun 2025” yang mencakup 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) dan 3 Destinasi Pariwisata Regeneratif (DPR).
Ini bukan sekadar kumpulan angka, melainkan sebuah narasi besar tentang bagaimana sektor pariwisata Indonesia bertransformasi menjadi lebih terukur dan berdaya saing.
“Data statistik adalah navigasi utama agar setiap rupiah dapat memberikan dampak yang terukur bagi perekonomian masyarakat,” ujar Sekretaris Kementerian Pariwisata, Bayu Aji, menegaskan bahwa pembangunan pariwisata yang efektif harus didasarkan pada data yang akurat dan terkini.
Baca Juga: Pesta Kopi Terbesar Jogja Coffee Week Segera Hadir, Catat Tanggalnya
Delapan indikator statistik pariwisata yang dipantau secara komprehensif—mulai dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan nusantara (wisnus), rata-rata lama kunjungan, realisasi investasi, hingga profil usaha akomodasi, makan-minum, dan objek daya tarik wisata (ODTW)—memberikan gambaran menyeluruh tentang performa sektor ini.
“Penyusunan data tersebut melibatkan sejumlah kementerian/lembaga yang diharapkan bisa menjadi rujukan bagi berbagai pihak dalam merancang pembangunan pariwisata yang semakin efektif, berdampak, dan berdaya saing, sekaligus menyediakan data statistik sektoral yang menggambarkan perkembangan berbagai indikator pariwisata di destinasi prioritas,” ia mengatakan.
Data terbaru menyoroti 10 Destinasi Pariwisata Prioritas, di mana Borobudur-Yogyakarta-Prambanan dan Bromo-Tengger-Semeru mencatat kunjungan wisatawan nusantara yang fantastis. Rata-rata 56,19 juta dan 50,89 juta kunjungan.
Sementara itu, konsep pariwisata regeneratif mulai diterapkan di Bali, Greater Jakarta, dan Kepulauan Riau, dengan tujuan tidak hanya menjaga keberlanjutan tetapi juga memulihkan ekologi, sosial, dan budaya destinasi. Bali mencatat 7,04 juta kunjungan wisman dengan rata-rata lama tinggal 9,04 malam serta investasi Rp16,05 triliun.
Jakarta memimpin dengan investasi Rp23,74 triliun dan 293 juta kunjungan wisatawan nusantara. Angka-angka ini menegaskan bahwa pariwisata Indonesia tidak hanya menjadi motor ekonomi, tetapi juga sarana transformasi menuju model regeneratif yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
