ASIAWORLDVIEW – Apple dikenal sebagai perusahaan yang hampir selalu sukses dalam setiap produk yang dirilis—dari iPod hingga iPhone, dari iPad hingga AirPods. Namun, ada satu kategori gadget yang belum pernah mereka sentuh secara serius: kacamata pintar (smart glasses). Raksasa teknologi lain seperti Meta, Google, dan Samsung sudah merambah pasar ini, Apple tampaknya masih terlibat dalam perdebatan sengit di balik layar.
Menurut laporan Mark Gurman dari Bloomberg, isu utama yang sedang dihadapi Apple bukanlah desain atau spesifikasi teknis, melainkan privasi, sebuah dilema yang bisa menentukan apakah Apple akan menjadi raja kacamata pintar atau justru “mati konyol” sebelum sempat melangkah.
Di dunia kacamata pintar, fitur yang paling kontroversial sekaligus paling laris adalah kamera. Kamera memungkinkan pengguna merekam foto dan video secara hands-free, yang sangat menarik untuk olahraga aksi, vlogging, atau sekadar mengabadikan momen tanpa harus mengeluarkan ponsel.
Baca Juga: Apple Hadapi Gugatan Baru Terkait Kasus Penipuan Kripto
Namun, di sisi lain, kamera juga membuka pintu bagi penyalahgunaan—rekaman rahasia, pelanggaran privasi, hingga potensi pengintaian. Inilah yang menjadi kekhawatiran utama Apple, yang selama bertahun-tahun membangun merek di atas fondasi “privasi adalah hak asasi manusia”.
Menurut Gurman, Apple sedang mempertimbangkan dua pendekatan utama yang sama sekali berbeda dari apa yang dilakukan Meta dengan kacamata Ray-Ban Stories-nya.
Opsi Pertama: Tanpa Kamera Sama Sekali
Apple dilaporkan tengah memprototipe kacamata pintar yang sama sekali tidak dilengkapi kamera. Dengan pendekatan ini, perangkat akan fokus pada fitur-fitur AI yang tidak memerlukan pemrosesan visual, seperti transkripsi dan terjemahan langsung, notifikasi email, kalender, serta pesan teks. Ini mirip dengan pendekatan yang diambil oleh perusahaan rintisan seperti Even Realities, produk yang lebih mengutamakan produktivitas daripada kemampuan mengabadikan momen. Kelebihan jelas: tidak ada risiko privasi sama sekali. Namun, kekurangannya juga sama jelas: tanpa kamera, kacamata ini akan kehilangan fitur paling “seksi” yang membuat orang rela memakai alat di wajah mereka.
Opsi Kedua: Ada Kamera, Tapi Tidak Bisa Foto atau Video
Apple menyertakan kamera, tetapi dengan pembatasan yang sangat ketat: kamera tidak bisa digunakan untuk mengambil foto atau video. Sebaliknya, kamera akan berfungsi semata-mata untuk fitur-fitur berbasis computer vision, seperti menerjemahkan teks dari papan reklame, mengidentifikasi objek di sekitar, atau navigasi berbasis visual—semua tanpa menyimpan gambar atau rekaman apa pun. Ini adalah langkah kompromi yang menarik: fitur cerdas tetap ada, tetapi risiko penyalahgunaan praktis lenyap.
Namun, ada masalah besar dengan kedua pendekatan ini: tanpa kemampuan mengambil foto dan video, apakah kacamata pintar masih cukup menarik untuk dibeli? Berdasarkan pengalaman menggunakan Meta AI dan berbagai kacamata pintar lainnya, fitur AI murni (tanpa visual capture) masih belum menjadi “killer feature” yang bisa mendorong adopsi massal. Model bahasa besar memang sudah semakin pintar, tetapi kasus penggunaannya masih terbatas dan tidak selalu intuitif. Banyak orang—termasuk jurnalis teknologi sekalipun—masih harus “berusaha” mencari alasan untuk menggunakan computer vision, yang justru mengurangi kesan magis yang seharusnya diberikan oleh teknologi semacam itu.
Di sisi lain, kompetitor seperti Meta, Google, dan Samsung justru memilih jalur yang lebih “berani” dengan menyertakan kamera yang mampu mengambil foto dan video 4K. Dan fakta di lapangan—berdasarkan pengamatan langsung—menunjukkan bahwa kemampuan merekam hands-free tetap menjadi fitur yang paling dipasarkan dan paling diminati konsumen. Ini bukan hanya soal “glasshole” (sebutan untuk pengguna yang diam-diam merekam orang lain), tetapi juga pengguna normal yang ingin merekam olahraga ekstrem, perjalanan, atau momen bersama keluarga tanpa perlu memegang ponsel.
