Masyarakat Abai Soal Keamanan Siber, Hacker Bebas Beraksi

Joseph Edi Hut Lumban Gaol - Presiden Direktur dan Bapak Eko Prasudi Widianto - Direktur PT ITSEC Asia Tbk

ASIAWORLDVIEW – Masalah keamanan siber di ASEAN memang menjadi perhatian serius, terutama dengan meningkatnya digitalisasi. Laporan terbaru menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang paling terdampak, dengan lebih dari 1.594 serangan siber tercatat sepanjang tahun 2024. Serangan ini mencakup berbagai sektor, termasuk pemerintah, pendidikan, dan media.

Joseph Edi Hut Lumban Gaol, Presiden Direktur dan Bapak Eko Prasudi Widianto, Direktur PT ITSEC Asia Tbk memaparkan serangan cyber yang mengintai di Indonesia. Menurutnya, jenis serangan yang umum terjadi meliputi pencurian data, serangan Distributed Denial of Service (DDoS), dan perusakan situs web. Kebocoran data pribadi juga menjadi ancaman besar, dengan jutaan informasi sensitif warga Indonesia yang terekspos.

“Faktor utama yang menyebabkan kerentanan ini adalah kurangnya protokol keamanan yang ketat, terutama dalam penggunaan aplikasi cloud dan perangkat digital,” sebutnya dalam acara keterangan pers menuju ITSEC: Cybersecurity Summit 2025, Senin (28/4/2025).

Baca Juga: Adopsi Cybersecurity: Mobile Credentials Alami Pertumbuhan Pesat

Ia menyayangkan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap masalah ini menjadi salah satu faktor utama. Banyak individu dan organisasi yang tidak sepenuhnya memahami pentingnya keamanan siber, sehingga langkah-langkah dasar sering diabaikan.

“Pengguna juga kerap kali abai terhadap keamanan pada gadget. Perangkat lunak yang tidak diperbarui membuat celah keamanan semakin mudah dimanfaatkan oleh peretas,” ia menambahkan.

Banyak organisasi kecil hingga menengah tidak memiliki anggaran yang memadai untuk mengimplementasikan solusi keamanan tingkat lanjut. Rata-rata menyebut cybersecurity merupakan produk yang mahal, padahal sangat diperlukan.

“Kami berharap untuk meningkatkan kesadaran dan pendidikan tentang keamanan digital, serta mengadopsi teknologi keamanan terkini, adalah langkah penting untuk mengurangi kerentanan ini,” pungkasnya.

Untuk mengatasi masalah ini, penting bagi individu dan organisasi untuk meningkatkan kesadaran akan ancaman siber, menerapkan teknologi keamanan terkini seperti firewall dan enkripsi data, serta memberikan pelatihan keamanan kepada karyawan.