ASIAWORLDVIEW – Bitcoin mengalami penurunan tajam, mencapai level terendah dalam hampir sebulan selama perdagangan Senin (7/4/2025) pagi. Penurunan ini memperpanjang kerugian terakhirnya, yang sebagian besar dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian di pasar. Volatilitas ini dipicu oleh penerapan tarif perdagangan tinggi oleh Presiden AS Donald Trump, yang meningkatkan kekhawatiran tentang kemungkinan terjadinya perang dagang global. Akibatnya, minat terhadap risiko di pasar sangat berkurang, yang berkontribusi pada penurunan tajam Bitcoin.
Para pedagang tetap berhati-hati, dengan kekhawatiran akan terjadinya kejadian serupa “Black Monday” pada tahun 1987, ketika pasar saham global mengalami penurunan dramatis. Ketidakpastian seputar hubungan dagang global dan potensi gangguan ekonomi lebih lanjut membuat para investor merasa cemas.
Baca Juga: Dampak Trump Tariff, Harga Bitcoin dan Ethereum Terkoreksi Tajam
Pasar aset kripto, khususnya, mencerminkan penurunan di pasar keuangan tradisional. Seiring dengan berkurangnya minat global terhadap investasi berbasis risiko, kapitalisasi pasar kripto total turun sekitar USD500 miliar sejak minggu lalu. Penjualan besar-besaran ini menyoroti semakin dalamnya kekhawatiran seputar aset tradisional maupun digital di tengah ketidakstabilan ekonomi global.
Bitcoin mengalami penurunan tajam sebesar 7%, mencapai level terendah hampir sebulan di USD77,171.1, sebelum mengalami pemulihan ringan ke USD78,290.7 pada malam hari. Aset kripto terbesar di dunia ini tertekan setelah pekan lalu mengalami kerugian signifikan.
Ketidakpastian yang ditimbulkan oleh tarif ini menyebabkan kekhawatiran yang meluas, tidak hanya di pasar tradisional, tetapi juga di pasar kripto. Pasar kripto, yang sering kali lebih volatil dan sensitif terhadap faktor eksternal, tidak terkecuali, mengalami kerugian signifikan seiring dengan reaksi para trader terhadap gejolak ekonomi yang lebih luas.
Tarif-tarif ini telah membuat para trader menjadi lebih berhati-hati, mendorong mereka untuk mengadopsi sikap yang lebih menghindari risiko seiring situasi di bawah Presiden Trump terus berkembang. Negara-negara yang menjadi sasaran tarif ini telah mengungkapkan penolakan mereka, dengan banyak yang menguraikan langkah-langkah pembalasan yang mungkin dilakukan.
