Bank Indonesia Pastikan Nilai Tukar Rupiah Masih Terkendali

Teller tengah menghitung tumpukan uang Rupiah pecahan Rp100.000

ASIAWORLDVIEW – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, telah mengatakan bahwa nilai tukar rupiah masih terkendali. Hal ini didukung oleh kebijakan stabilisasi bank sentral.

Rupiah telah memperkuat dolar Amerika Serikat sebesar 0,94 persen point ke point (PTP) setelah mengalami penurunan 1,69 persen (PTP) pada Februari 2025.

Perry Warjiyo mengatakan, Rabu (19/3/2025), bahwa pengembangan tingkat rupiah dipengaruhi oleh penurunan arus masuk modal asing ke dalam saham regional, termasuk di Indonesia, di tengah ketidakpastian global.

“Stabilitas Rupiah konsisten dengan kebijakan stabilisasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia,” katanya.

Nilai tukar rupiah terkontrol tercermin oleh stabilitas relatifnya dibandingkan dengan mata uang mitra dagang utama Indonesia untuk pasar negara berkembang, dan tetap lebih kuat terhadap sekelompok mata uang negara -negara maju di luar dolar AS, yang disorot Warjiyo.

Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Rp16.575 Terendah sejak 1998, Begini Dampaknya pada Indonesia

“Ke depan, nilai tukar rupiah diharapkan tetap stabil, didukung oleh komitmen BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar, hasil yang menarik, inflasi rendah, dan prospek positif untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tambahnya.

Dia mengatakan bahwa semua instrumen moneter akan terus dioptimalkan. Ini akan mencakup memperkuat strategi operasi moneter pro-pasar melalui optimalisasi sekuritas rupiah BI (SRBI), sekuritas mata uang asing (SVBI), dan mata uang asing Sukuk (SUVBI), ia dikeluarkan.

Pada 17 Maret 2025, instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI dicatat pada Rp892,36 triliun, US $ 2,30 miliar, dan US USD320 juta, masing -masing.

Ia menjelaskan bahwa strategi sedang dilakukan untuk meningkatkan efektivitas kebijakan yang bertujuan menarik arus masuk investasi portofolio asing dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.