Rupiah Fluktuatif, Tekanan Global dan Domestik Membayangi

Mata uang Rupiah.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS atau USD hari ini, Jumat (10/7/2026), menunjukkan pergerakan fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Namun sempat dibuka lebih kuat di pasar spot.

Rupiah pagi ini dibuka menguat 45–67 poin di kisaran Rp18.061–Rp18.083/USD. Sebelumnya ditutup di level Rp18.128/USD. Sementara itu, kurs acuan Bank Indonesia menetapkan posisi tengah di Rp18.090/USD , dengan kurs jual Rp18.180 dan kurs beli Rp17.999. Bank-bank komersial juga mencatat pergerakan serupa, di mana BCA e-rate menempatkan kurs beli Rp18.045 dan jual Rp18.065, Mandiri special rate di Rp18.070–Rp18.100, serta BNI special rate di Rp18.050–Rp18.090.

Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, ketegangan geopolitik antara AS dan Iran kembali meningkat setelah Presiden Donald Trump menyatakan berakhirnya gencatan senjata, yang mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan permintaan dolar AS sebagai aset aman.

Baca Juga: Rupiah Kembali Tembus Rp 18.000, Melemah di Tengah Gejolak Pasar

Dari dalam negeri, pelemahan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) serta perlambatan penjualan ritel menekan prospek konsumsi domestik, sehingga mengurangi minat investor terhadap aset berdenominasi rupiah. Selain itu, risalah rapat The Fed bulan Juni yang menyoroti kekhawatiran inflasi kaku membuka peluang kenaikan suku bunga lebih di AS, yang berpotensi menekan lebih lanjut mata uang emerging market termasuk rupiah.

Analis memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan tren melemah di kisaran Rp18.050–Rp18.200/USD sepanjang hari. Jika ketegangan geopolitik terus meningkat, rupiah berisiko kembali melemah ke atas Rp18.120/USD.

Namun intervensi Bank Indonesia melalui cadangan devisa dan kebijakan stabilisasi kurs diharapkan mampu menahan pelemahan lebih dalam. Kondisi ini menjadi perhatian penting bagi pelaku pasar, importir, dan masyarakat karena pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga barang impor, menambah tekanan inflasi, serta mempengaruhi daya beli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *