ASIAWORLDVIEW – Bitcoin pulih hari ini, Jumat (10/7/2026), diperdagangkan di kisaran US$ 63.131 per BTC (sekitar Rp 1,14 miliar, kurs Rp 18.128) dengan kenaikan harian sekitar 1,6 persen. Kapitalisasi pasar mencapai USD1,26 triliun (Rp 22.832 triliun).
Pergerakan ini menandai pemulihan setelah aksi ambil untung besar yang sempat menekan harga. Dalam 24 jam terakhir, volume perdagangan mencapai USD 27,9 miliar, menunjukkan likuiditas yang tetap kuat meski volatilitas menurun akibat berkurangnya posisi leverage. Secara mingguan, Bitcoin mencatat kenaikan 2,75–3,06%, memperlihatkan tren positif yang konsisten.
Kondisi pasar Bitcoin menunjukkan pemulihan yang cukup solid setelah tekanan jual besar pada 9 Juli. Harga stabil di atas USD63.000 berkat berkurangnya arus keluar institusional, sehingga aksi ambil untung tidak lagi menekan harga secara signifikan.
Baca Juga: Bitcoin Pulih ke Atas USD60.700 Usai Pernyataan Fed, Solana Pimpin Kenaikan Kripto
Selain itu, korelasi kuat dengan indeks S&P 500 (sekitar 76%) memperlihatkan bahwa pergerakan Bitcoin sejalan dengan membaiknya sentimen risiko global di pasar saham. Likuiditas juga lebih terkendali karena posisi leverage menurun, membuat volatilitas tidak seintensif sebelumnya. Dari sisi makroekonomi, meredanya ketegangan geopolitik AS–Iran memberi ruang bagi rebound aset berisiko.
Likuiditas pasar yang lebih terkendali membuat volatilitas tidak seintensif sebelumnya. Dari sisi makroekonomi, meredanya ketegangan geopolitik AS–Iran juga memberi ruang bagi rebound aset berisiko, termasuk kripto.
Sementara pasar kripto secara keseluruhan mencatat kapitalisasi USD 2,17 triliun, dengan altcoin besar seperti Ethereum dan BNB ikut menguat. Bagi investor, kondisi ini menandakan support kuat di level USD 63.000 sebagai sinyal positif jangka pendek.
Namun risiko tetap ada jika kebijakan moneter global berubah atau ketegangan geopolitik kembali meningkat. Arus masuk ETF dan pengurangan leverage menjadi faktor stabilisasi tambahan, memperkuat keyakinan bahwa Bitcoin masih berfungsi sebagai barometer utama sentimen risiko global.

