Rupiah Melemah Tipis, Cadangan Devisa Jadi Penopang

Uang rupiah.(Pixabay)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah tipis, Rabu (8/7/2026), ke kisaran Rp 17.981–17.988 per USD. Angkanya turun sekitar 0,02%–0,04% dari penutupan sebelumnya di Rp 17.980.

Pelemahan ini menunjukkan bahwa rupiah masih berada dalam fase konsolidasi, dengan tekanan eksternal lebih dominan dibanding dukungan domestik. Kurs tengah Bank Indonesia tercatat di Rp 17.988 per USD, sementara kurs jual-beli bank besar seperti BCA, Mandiri, BRI, dan BNI berada di kisaran Rp 17.970–18.010, menandakan stabilitas relatif meski ada fluktuasi kecil.

Faktor utama pelemahan rupiah hari ini adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya serangan AS ke Iran di Selat Hormuz yang meningkatkan permintaan dolar sebagai safe haven. Hal ini diperkuat oleh indeks dolar AS yang menguat ke level 100,89–101,18, tertinggi sejak awal Juli 2026. Meski demikian, dari sisi domestik terdapat dukungan fundamental berupa kenaikan cadangan devisa Indonesia ke USD145,6 miliar, setara pembiayaan 5,5 bulan impor, yang memberi sinyal kuat bahwa Bank Indonesia memiliki ruang intervensi untuk menjaga stabilitas kurs.

Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis, Dibuka di Rp 18.134 per Dolar AS

Selain itu, investor juga menunggu rilis Indeks Kepercayaan Konsumen yang diperkirakan naik ke level 125, sehingga berpotensi memberi dorongan positif bagi rupiah dalam jangka pendek.

Secara teknikal, rupiah hari ini diperkirakan bergerak dalam range Rp 17.950–Rp 18.050 per USD, dengan level psikologis Rp 18.000 sebagai batas atas yang diawasi ketat oleh pelaku pasar. Jika ketegangan global mereda dan data domestik menunjukkan hasil positif, rupiah berpeluang menguat kembali ke bawah Rp 17.950. Namun, jika eskalasi konflik meningkat, risiko pelemahan hingga menembus Rp 18.050 tetap terbuka.

Nilai tukar rupiah pada 8 Juli 2026 melemah tipis akibat kombinasi faktor eksternal berupa geopolitik dan penguatan dolar AS. Sementara dukungan domestik dari cadangan devisa dan potensi kenaikan kepercayaan konsumen memberi harapan stabilisasi.

Dengan kondisi ini, rupiah berada dalam fase konsolidasi, di mana arah selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global dan rilis data ekonomi domestik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *