ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat di level 5.932,03, hari ini, Senin (29/6/2026), naik 35,90 poin atau sekitar 0,61% dibanding penutupan sebelumnya. Indeks LQ45 juga ikut menguat tipis sebesar 0,17% ke posisi 584,70, menandakan adanya dorongan positif dari saham-saham berkapitalisasi besar.
Pergerakan ini cukup signifikan mengingat pekan lalu IHSG sempat melemah 1,72% ke 5.896 pada Jumat (26/6), dengan koreksi mingguan mencapai 4,55%. Penguatan IHSG hari ini didorong oleh beberapa faktor utama, antara lain sentimen positif domestik di mana investor melakukan akumulasi pada saham big caps, terutama sektor keuangan dan infrastruktur.
Selain itu, penguatan rupiah di bawah Rp18.000 per USD memberi dukungan tambahan bagi pasar saham. Sementara pelaku pasar juga mencermati data ekonomi global seperti rilis tenaga kerja AS dan kebijakan hawkish The Fed.
Fluktuasi harga komoditas, khususnya minyak dan emas, turut memengaruhi sektor terkait di bursa. Secara teknis, IHSG memiliki support utama di 5.750–5.850 dan resistance terdekat di 6.000–6.100.
Baca Juga: Pasar Saham Indonesia Tertekan, IHSG ke Level 7.410
Potensi pergerakan diperkirakan sideways dengan kecenderungan menguat terbatas, menguji area 5.912–5.937. Meski dibuka menguat, risiko tetap membayangi karena volatilitas tinggi dan aksi jual asing yang masih berlanjut. Pada perdagangan Jumat lalu, investor asing mencatat net sell Rp302 miliar, terutama pada saham BMRI, ASII, TLKM, dan BRPT, yang menunjukkan tekanan masih ada di saham unggulan.
Faktor eksternal seperti geopolitik global, ketegangan AS–Iran, serta konflik di Timur Tengah juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar. Dari sisi domestik, rilis inflasi dan PMI Indonesia yang cenderung landai akan menjadi katalis penting bagi arah IHSG pekan ini.
Secara keseluruhan, IHSG pada 29 Juni 2026 dibuka menguat ke 5.932, memberikan sinyal optimisme setelah koreksi tajam pekan lalu. Dukungan datang dari penguatan rupiah dan akumulasi saham big caps, meski risiko eksternal seperti kebijakan The Fed dan geopolitik global tetap membayangi.
Level 6.000 menjadi resistance psikologis penting yang akan menentukan arah pergerakan indeks sepanjang pekan ini, apakah mampu menembus ke atas atau kembali terkoreksi.
