ASIAWORLDVIEW – Umat Islam di Indonesia memperingati Tahun Baru Hijriah 1448 H, Selasa (16/6/2026). Pemerintah menetapkan tanggal ini sebagai libur nasional, sesuai dengan penetapan Kementerian Agama RI berdasarkan rukyatul hilal. Momentum pergantian tahun Hijriah ini memiliki makna spiritual yang sangat dalam, karena merujuk pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M, yang menjadi tonggak awal penanggalan Islam.
Tahun Baru Hijriyah memiliki makna yang sangat fundamental dan multidimensional bagi umat Islam. Ini jauh melampaui sekadar pergantian angka dalam kalender.
Ayat Tentang Kemuliaan Bulan Hijriyah (At-Taubah: 36)
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”
Baca Juga: Makna Hari Tarwiyah dan Arafah bagi Umat Islam

Mengutip dari situs resmi Muhammadiyah, peristiwa ini berakar pada momen bersejarah agung, yaitu Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yang kemudian ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab sebagai titik awal penanggalan Islam. Pemilihan peristiwa Hijrah sebagai patokan tahun bukanlah tanpa alasan; melambangkan fase transisi monumental dari masa penindasan menuju era kebebasan beribadah.
Momen ini juga menjadi pengingat bagi Umat Islam dari keterbatasan dakwah menuju pembentukan peradaban yang berdaulat. Selain itu, dari tatanan sosial yang sempit menuju masyarakat madani yang pluralis dan berkeadilan.
Perubahan besar dalam sejarah selalu diawali dengan pengorbanan, perencanaan matang, dan ketawakalan kepada Allah, sebagaimana Rasulullah dan para sahabat rela meninggalkan harta, keluarga, dan kampung halaman demi tegaknya agama.
Momentum ini mengajak umat untuk melakukan “hijrah” dalam skala individu, yakni meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, kebiasaan buruk, dan kelalaian hati menuju ketaatan, perbaikan akhlak, serta peningkatan kualitas ibadah. Ini adalah waktu yang tepat untuk menyusun resolusi keimanan yang konkret, seperti memperbaiki kualitas salat, memperbanyak sedekah.
Selain itu, mendalami Al-Qur’an, atau memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Lebih dari itu, bulan Muharram sendiri menyandang status sebagai salah satu dari empat bulan haram (suci) yang dimuliakan Allah, sehingga di dalamnya terkandung nilai tambahan berupa larangan berbuat zalim dan anjuran memperbanyak amal saleh, terutama puasa sunnah Asyura (10 Muharram) yang menghapus dosa setahun lalu, yang menambah dimensi spiritualitas pada pergantian tahun ini.
