ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak fluktuatif hari ini, Selasa (9/6/2026), namun menunjukkan kecenderungan menguat tipis. Rupiah dibuka di kisaran Rp 18.134–Rp 18.144 per dolar AS atau USD, lebih baik dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 18.188, sehingga tercatat penguatan sekitar 43–54 poin (0,24–0,29%).
Penguatan ini terjadi seiring dengan melemahnya Indeks Dolar AS (DXY) ke level 99,97. Kondisi ini memberi ruang bagi rupiah untuk rebound setelah tekanan kuat beberapa hari terakhir.
Pergerakan rupiah hari ini tidak lepas dari faktor eksternal. Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve, yang biasanya menekan mata uang Asia termasuk rupiah.
Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah sempat membuat dolar AS menguat sebagai aset aman, meski pagi ini ada tanda-tanda deeskalasi yang sedikit meredakan tekanan. Di sisi lain, harga minyak mentah global turun tipis, memberi sentimen positif bagi rupiah karena Indonesia merupakan negara importir minyak, sehingga penurunan harga minyak dapat mengurangi tekanan pada neraca perdagangan.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp18.100, Dampak Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan The Fed
Mata uang Asia bergerak beragam. Won Korea Selatan menguat 0,39%, Ringgit Malaysia naik 0,08%, dan Baht Thailand naik 0,06%. Sebaliknya, Yen Jepang justru melemah ke level 160,29 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa rupiah masih mengikuti tren regional, namun tetap rentan terhadap faktor eksternal yang dominan.
Secara analisis pasar, rupiah diperkirakan akan tetap fluktuatif sepanjang hari, dengan proyeksi pergerakan di kisaran Rp 18.200–Rp 18.350 per dolar AS. Fokus utama investor saat ini tertuju pada rilis data inflasi AS pekan ini, yang akan menjadi acuan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Dari dalam negeri, penurunan cadangan devisa dan krisis kepercayaan pasar masih menjadi sentimen negatif yang membayangi, sehingga meski ada penguatan tipis, rupiah belum sepenuhnya keluar dari tekanan.
Nilai tukar rupiah hari ini mencerminkan kombinasi antara tekanan eksternal dari kebijakan moneter AS dan kondisi geopolitik global, serta dinamika domestik yang masih rapuh. Investor disarankan tetap berhati-hati menghadapi volatilitas, karena arah rupiah sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi AS dan pergerakan dolar dalam beberapa hari ke depan.
