Mengapa Rokok Jadi Masalah Kesehatan yang Sulit Diatasi?

ASIAWORLDVIEWMasyarakat Indonesia menghadapi masalah serius berupa kecanduan rokok yang telah menjadi salah satu krisis kesehatan publik paling kompleks. Tingginya prevalensi perokok di Indonesia tidak hanya dipicu oleh kandungan nikotin dalam rokok yang bersifat adiktif, melainkan juga diperkuat oleh faktor sosial, budaya, dan ekonomi yang mengakar kuat.

Dr. Arief Riadi Arifin, Sp.P, spesialis pulmonologi yang mendalami penyakit paru dan pernapasan, memandang kecanduan rokok sebagai salah satu krisis kesehatan masyarakat yang paling kompleks dan mendesak di Indonesia. Menurutnya, merokok sering dianggap sebagai bagian dari pergaulan, simbol kedewasaan, bahkan pelepas stres, sehingga perilaku ini terus diwariskan lintas generasi.

“Kecanduan ini tidak hanya dipicu oleh nikoti, zat adiktif utama dalam rokok yang bekerja pada sistem saraf pusat dan memicu pelepasan dopamin sehingga menimbulkan rasa senang yang ingin terus diulang,” katanya dalam acara Kampanye #SehatTanpaRokok di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Baca Juga: Perokok Anak Banyak di Indonesia, Kemenkes Ingatkan Bahayanya

Di Indonesia, merokok sering dianggap sebagai bagian dari pergaulan, simbol kedewasaan, atau pelepas stres, padahal dampaknya sangat destruktif: merokok meningkatkan risiko kanker paru, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), tuberkulosis, dan berbagai gangguan kardiovaskular.

Dr. Arief menekankan bahwa prevalensi perokok di Indonesia masih sangat tinggi, termasuk di kalangan remaja dan wanita, yang disebabkan oleh harga rokok yang relatif murah, iklan yang masif, dan kurangnya edukasi tentang bahaya merokok.

Banyak pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi stadium lanjut, sehingga pengobatan menjadi sulit dan biaya sangat tinggi. Hal ini membebani sistem kesehatan nasional sekaligus menurunkan produktivitas masyarakat. Selain itu, kecanduan rokok juga menimbulkan dampak sosial-ekonomi, karena keluarga harus menanggung biaya kesehatan yang besar, sementara daya beli masyarakat terkikis oleh pengeluaran rutin untuk rokok.

Angka kematian akibat penyakit terkait rokok akan terus melonjak, membebani sistem kesehatan, dan merenggut produktivitas generasi muda Indonesia. Ia juga menyoroti bahwa banyak pasiennya yang datang sudah dalam stadium lanjut penyakit paru, sehingga pengobatan menjadi sangat sulit dan biaya tinggi. Ia mendorong pendekatan komprehensif untuk mengatasi kecanduan ini, mulai dari terapi pengganti nikotin, konseling psikologis, hingga program rehabilitasi paru.

“Harga rokok yang relatif murah, iklan yang masif, serta kurangnya edukasi tentang bahaya merokok semakin memperburuk situasi. Akibatnya, angka perokok di kalangan remaja dan wanita terus meningkat, memperluas dampak kesehatan jangka panjang,” ia menambahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *