ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melanjutkan tren pelemahannya, Rabu (20/5/2026), dengan ditutup terkoreksi 0,82% atau 52 poin ke level 6.318. Tekanan utama berasal dari sektor basic materials (bahan baku) yang ambruk hingga 4,67%, menjadikannya sektor dengan kinerja terburuk pada hari itu. Kondisi ini merupakan kelanjutan dari aksi jual besar sehari sebelumnya, di mana IHSG sempat anjlok 3,46% dengan sektor basic materials turun hingga 7,3%.
“IHSG ditutup melemah setelah bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta.
Penurunan sektor basic materials tercermin dari anjloknya sejumlah saham komoditas besar. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terpantau melemah hingga auto reject bawah (ARB) 14,74% ke Rp2.660 per saham. Saham lainnya yang menjadi top losers di indeks LQ45 antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turun 6,94% ke Rp2.950, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 6,27% ke Rp1.795, dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 6,15% ke Rp610.
Baca Juga: Rupiah Melemah, IHSG Anjlok Lebih dari 4%
Penyebab utama pelemahan ini adalah pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Paripurna DPR yang mengumumkan aturan baru bahwa ekspor sumber daya alam strategis (seperti batu bara, CPO, ferro alloy, dan mineral logam) wajib dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk. Kebijakan ini memicu kekhawatiran investor akan intervensi terhadap mekanisme pasar dan potensi penurunan margin keuntungan emiten komoditas.
Selain itu, Bank Indonesia pada siang hari yang sama menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah, yang turut menekan sentimen pasar.
Faktor global seperti ketidakpastian suku bunga The Fed dan tensi geopolitik juga memperburuk kondisi. Sepanjang 2026, IHSG sudah melemah hingga 27,64% dan sektor basic industry menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 5,75%, menjadikan IHSG sebagai salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia.
