ASIAWORLDVIEW – ARTCYCLE melalui program EARTHFORM menghadirkan kolaborasi antara brand berkelanjutan dan seniman visual kontemporer. Gelaran ini dihelat untuk mengeksplorasi potensi material yang sering terabaikan menjadi karya baru yang bermakna. Material seperti plastik daur ulang, sisa tekstil, hingga bahan berbasis hayati dan elemen alami diolah dengan pendekatan kreatif yang berbeda oleh setiap kolaborator, sehingga menghasilkan karya yang tidak hanya estetis tetapi juga membawa pesan keberlanjutan.
“Dari Limbah Jadi Karya: ARTCYCLE Hadirkan Eksplorasi Material di ASHTA District 8, inisiatif seni yang menekankan transformasi bahan bekas menjadi karya kreatif bernilai tinggi,” sebut Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara.
Pameran ini tidak hanya menampilkan inovasi artistik, tetapi juga mengajak publik untuk melihat potensi material limbah sebagai medium ekspresi dan solusi keberlanjutan. Dengan menghadirkan eksplorasi material di ruang publik ASHTA District 8, ARTCYCLE membuka ruang dialog tentang pentingnya kesadaran lingkungan sekaligus memperkuat posisi seni sebagai sarana edukasi dan inspirasi dalam menghadapi tantangan global terkait sampah dan konsumsi berlebih.
Baca Juga: Seni dan Bisnis Berpadu di Instalasi Catur Interaktif Art Jakarta Papers 2026
Pameran ini juga menampilkan instalasi imersif. Pengunjung diajak melihat bahwa sampah tidak berhenti sebagai limbah semata, melainkan memiliki potensi untuk diolah kembali menjadi produk bernilai guna. Inisiatif ini menekankan pentingnya kesadaran publik terhadap siklus sampah sekaligus membuka ruang kreatif untuk solusi keberlanjutan.
ARTCYCLE mendapat dukungan dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) yang berfokus pada pelestarian lingkungan melalui berbagai inisiatif berkelanjutan. Dengan landasan lima pilar keberlanjutan, BLDF secara konsisten mendorong upaya menjaga kelestarian alam, salah satunya melalui gerakan pengelolaan sampah organik.
“Dukungan ini memperkuat misi ARTCYCLE dalam mengangkat isu lingkungan lewat seni, sekaligus menegaskan komitmen BLDF untuk mengurangi dampak negatif sampah terhadap ekosistem,” pungkasnya.
Kolaborasi tersebut menjadi contoh nyata bagaimana seni dan gerakan sosial dapat berjalan beriringan dalam menciptakan kesadaran publik terhadap pentingnya keberlanjutan. Program ini juga mengajak pengunjung untuk memahami perjalanan limbah, termasuk realitas di Bantar Gebang sebagai salah satu titik akhir terbesar sampah di Jakarta yang sering dianggap “titik hilang” dari konsumsi sehari-hari.
