ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Sabtu, (25/4/2026), tercatat bergerak di kisaran Rp17.200–Rp17.350 per USD, setelah sehari sebelumnya sempat menguat ke level Rp17.205 per USD. Kondisi ini menunjukkan rupiah masih berada dalam tekanan global, meski ada tanda-tanda ketahanan dibanding mata uang negara tetangga.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa ia meyakini pelemahan nilai tukar rupiah tidak mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia. Bahkan, perekonomian domestik tetap relatif kuat dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan ini.
“Ini bukanlah pertanda memburuknya kondisi atau dipicu oleh memburuknya perekonomian domestik. Dibandingkan dengan negara-negara lain, kita masih kuat. Bahkan dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, dan negara lain, kita masih kuat,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis, Tahan Tekanan Eksternal
Ia menjelaskan bahwa melemahnya rupiah sebagian besar dipengaruhi oleh faktor global dan ekspektasi pasar. Pemerintah akan terus berupaya mengurangi gangguan atau ‘noise’ yang memicu persepsi negatif terhadap ekonomi Indonesia.
Di antara langkah-langkah yang akan dilakukan adalah menutup potensi kebocoran dalam sistem perpajakan serta memastikan kebijakan diterapkan secara lebih efektif. Sejumlah isu yang menimbulkan kontroversi, termasuk kebijakan perpajakan tertentu, juga telah disederhanakan untuk mengurangi ketidakpastian pasar, katanya.
Ia menekankan pentingnya mengelola ekspektasi publik dan pelaku pasar. Menurutnya, sentimen negatif yang beredar dapat memperburuk persepsi terhadap rupiah, meskipun fondasi ekonomi belum berubah.
“Fondasi ekonomi kita belum berubah. Bahkan, perekonomian akan tumbuh lebih cepat karena kita akan lebih serius dalam mengatasi hambatan-hambatan di sektor ekonomi,” pungkasnya.
