Pemerintah Naikkan LPG Non-Subsidi Hingga 18%, Ini Alasannya

Tabung gas LPG yang siap diedarkan ke masyarakat.(Pemkot Depok)

ASIAWORLDVIEW – Pemerintah berusaha mempertahankan harga Liquefied petroleum gas atau LPG subsidi tiga kilogram. Pasokan yang tetap berada di atas ambang batas minimum nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan, upaya ini untuk melindungi rumah tangga berpenghasilan rendah dari kenaikan biaya hidup. Sejak program LPG tiga kilogram diperkenalkan pada 2007, pemerintah belum pernah menaikkan harganya. Namun distorsi sering terjadi di tingkat distributor dan pengecer, yang mengakibatkan harga lebih tinggi bagi konsumen.

“Khusus untuk LPG bersubsidi, stok kami berada di atas standar minimum nasional, dan tidak ada kenaikan harga,” kata Menteri Bahlil.

Baca Juga: Bahlil Pastikan Penyesuaian BBM Nonsubsidi Sesuai Pasar Global

Pada Februari 2025, pemerintah berusaha merampingkan distribusi dengan menghilangkan pengecer, bertujuan untuk memperketat pengawasan atas penjualan bersubsidi. Langkah tersebut, bagaimanapun, memicu antrean panjang karena konsumen kesulitan mengakses pasokan.

Namun harga LPG non-subsidi, termasuk tabung 5,5 kg dan 12 kg, harga tetap terikat pada dinamika pasar internasional, kata Lahadalia. Pemerintah terbuka untuk menurunkan harga jika patokan global turun.

Per 18 April 2026, PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga LPG 12 kg menjadi Rp228.000, naik 18,75 persen dari Rp192.000. Varian 5,5 kg naik 18,89 persen menjadi Rp107.000 dari Rp90.000 di beberapa wilayah, termasuk Jakarta, Jawa Barat, dan Bali.

Kenaikan harga LPG non-subsidi pada April 2026 menandai penyesuaian pertama sejak 2023, yang mencerminkan dampak langsung dari lonjakan biaya energi global. Selama beberapa tahun terakhir, harga energi internasional mengalami fluktuasi tajam akibat ketegangan geopolitik, peningkatan permintaan pasca-pandemi, serta dinamika pasokan dari negara produsen utama.

Penyesuaian ini menunjukkan bahwa harga LPG non-subsidi di Indonesia tetap mengikuti mekanisme pasar dunia, berbeda dengan LPG bersubsidi tiga kilogram yang dijaga stabil oleh pemerintah untuk melindungi rumah tangga berpenghasilan rendah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *