ASIAWORLDVIEW – Harga Solana atau SOL, Selasa (3/3/2026), masih berada dalam tekanan setelah penurunan signifikan sepanjang Februari. Berdasarkan laporan pasar, SOL diperdagangkan mendekati level USD 59 hingga 60.
Tren bulanan menunjukkan pelemahan lebih dari 30% akibat berkurangnya aktivitas di ekosistem memecoin dan penurunan volume perdagangan di decentralized exchange (DEX). Meski begitu, Solana tetap menjadi salah satu altcoin dengan ekosistem kuat, terutama berkat pembaruan jaringan dan potensi dukungan institusional melalui ETF spot yang diantisipasi sejak akhir 2025.
Kondisi ini membuat pergerakan harga Solana di awal Maret 2026 masih penuh tantangan. Namun tetap diawasi ketat oleh investor karena utilitas on-chain yang relatif solid.
Baca Juga: Solana Mobile Umumkan Peluncuran Token SKR, Perkuat Ekosistem Blokchain
Nilai total yang terkunci dalam jaringan juga turun dari lebih dari USD9 miliar yang tercatat pada 17 Januari menjadi USD6,64 miliar pada saat penulisan ini.
Dengan pendapatan jaringan dan TVL yang menurun, investor khawatir bahwa fase pertumbuhan eksplosif Solana telah berakhir, dan demam memecoin yang mendorong pertumbuhan jaringan akhirnya mereda.
Permintaan token di pasar derivatif juga turut berkontribusi pada penurunan ini. Data dari CoinGlass menunjukkan bahwa open interest kontrak berjangka SOL telah berkurang hampir 45% menjadi USD4,93 miliar dari puncak Januari sebesar USD8,88 miliar, seiring para trader melepas posisi mereka sambil menunggu tanda-tanda ketenangan di lanskap geopolitik global.
Harga Solana juga terpengaruh oleh penurunan pasar secara luas sebagai respons terhadap konflik yang sedang berlangsung antara AS dan Iran, yang telah mendorong investor menjauhi aset berisiko dan beralih ke alternatif tradisional, karena mereka mengharapkan volatilitas yang lebih tinggi selama minggu ini.
