Momen Sakral Imlek, Ritual Turun Temurun Sejak 3.000 Tahun Silam

Lampion yang menghiasi selama Perayaan Imlek.(Unsplash.com/Stella Guan)

ASIAWORLDVIEW – Masyarakat Tionghoa di seluruh dunia merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili dengan penuh semangat dan makna, Selasa (17/2/2026). Ini merupakan tonggak budaya yang mendalam yang memperkuat ikatan keluarga, menghormati warisan leluhur, dan melambangkan pembaruan dan harapan.

Berakar dalam tradisi berabad-abad, perayaan Tahun Baru Imlek, yang juga dikenal sebagai Festival Musim Semi, mengandung makna pentingnya reuni, rasa syukur, dan awal yang baik. Wajar saja, menjadikannya salah satu acara tahunan paling bermakna dalam kalender budaya Tionghoa.

Tahun Baru Imlek mengikuti kalender lunar, artinya tanggalnya bervariasi setiap tahun dalam kalender Gregorian. Pada tahun 2025, Tahun Baru Imlek jatuh pada Rabu, 29 Januari, menandai awal Tahun Ular. Perayaan biasanya berlangsung selama 15 hari, mencapai puncaknya pada Festival Lentera pada bulan purnama pertama. Berbeda dengan liburan dengan tanggal tetap seperti Natal, waktu perayaan Tahun Baru Imlek bergeser setiap tahun antara 21 Januari dan 20 Februari, tergantung pada bulan baru terdekat dengan awal musim semi.

Baca Juga: Trend Makeup Imlek 2026, Paduan Warna Merah dan Emas Masih Mendominasi

Panmpilan Barongsai saat Imlek
Panampilan Barongsai saat Imlek

Mengutip dari China HIghlight, akar Tahun Baru Imlek dapat ditelusuri kembali lebih dari 3.000 tahun ke Dinasti Shang, di mana upacara dilakukan untuk menghormati dewa dan leluhur pada akhir panen musim dingin. Legenda menceritakan tentang Nian, seekor monster buas mengerikan yang mengganggu manusia.

Menurut legenda Tionghoa, monster buas berkepala tanduk ini keluar dari laut atau gunung setiap akhir tahun untuk memangsa penduduk desa, ternak, dan anak-anak. Makhluk ini bisa diusir oleh suara keras dan warna merah—oleh karena itu, tradisi kembang api dan hiasan merah tetap bertahan hingga kini. Seiring waktu, praktik-praktik ini berkembang menjadi rangkaian tindakan simbolis yang dirancang untuk mengusir roh jahat dan menarik kemakmuran.

Selama Dinasti Han (206 SM–220 M), festival ini menjadi terstandarisasi, mencakup unsur-unsur seperti pemujaan leluhur, pesta makan, dan pemberian hadiah. Seiring penyebaran komunitas diaspora Tionghoa ke Asia Tenggara, Amerika, dan Eropa, mereka membawa tradisi ini bersama mereka, menyesuaikannya dengan konteks lokal sambil mempertahankan esensinya. Hari ini, merayakan Tahun Baru Imlek bukan hanya tindakan pelestarian budaya, tetapi juga demonstrasi ketahanan dan adaptabilitas dalam dunia yang terglobalisasi.

Keluarga tengah merayakan Imlek
Keluarga tengah merayakan Imlek

Tahun Baru Imlek memiliki makna spiritual melalui adat istiadat yang bertujuan memastikan keberuntungan, kesehatan, dan kemakmuran di tahun yang akan datang. Rumah dibersihkan secara menyeluruh sebelum perayaan untuk mengusir nasib buruk dan memberi ruang bagi keberuntungan.

Tak lupa tradisi memberikan angpau merah. Amplop merah berisi uang, diberikan kepada anak-anak dan orang dewasa yang belum menikah sebagai simbol berkah.

Pada hari-hari pertama Tahun Baru Imlek, warga Tionghoa, menjalankan tradisi ibadah di kuil atau vihara sebagai bentuk syukur dan harapan untuk tahun yang baru. Mereka berdoa untuk kedamaian, kesuksesan, kesehatan, dan perlindungan bagi keluarga serta lingkungan sekitar.

Persembahan berupa buah, kue keranjang, dan dupa dipersembahkan kepada para Dewa, termasuk Caishen, Dewa Kekayaan, yang dipercaya membawa rezeki dan kemakmuran. Suasana di kuil dipenuhi aroma dupa dan warna merah yang melambangkan keberuntungan, menciptakan momen spiritual yang khusyuk sekaligus penuh harapan