ASIAWORLDVIEW – Indonesia ditandai oleh berbagai dinamika sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan yang saling memengaruhi pada Semester 2 tahun 2025. Ketegangan di bidang-bidang tersebut berdampak langsung pada daya beli masyarakat, membuat konsumen lebih selektif dan berhati-hati dalam menentukan prioritas belanja. Kondisi ini turut membentuk lanskap pasar properti yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurut data Pinhome, kecenderungan masyarakat untuk menunda atau mempertimbangkan lebih matang keputusan besar, seperti pembelian rumah, menjadi ciri utama periode tersebut. Dengan demikian, pasar properti pada semester ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kehati-hatian konsumen, yang mencerminkan ketidakpastian dan perubahan arah dalam perilaku ekonomi masyarakat.
“Tekanan ekonomi yang terjadi sepanjang 2025, mulai dari gelombang PHK di berbagai sektor industri hingga kenaikan biaya hidup, mendorong sebagian pemilik properti untuk melepas aset hunian mereka guna menjaga likuiditas,” ujar Dayu Dara Permata, CEO Founder Pinhome, dikutip Asiaworldview, Sabtu (14/2/2026).
Baca Juga: NFT Properti Jadi Tren, Bagaimana Cara Mainnya?
Rata-rata penambahan inventori rumah baru bulanan yang turun hingga -14% menunjukkan adanya penurunan suplai rumah primer di pasar, sehingga membuka peluang bagi pengembang yang memiliki stok rumah siap huni untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang ingin membeli cepat. Kondisi ini semakin menarik karena masih berlaku kebijakan PPN DTP hingga akhir 2027, yang memberikan insentif fiskal bagi pembeli rumah baru. Sebaliknya, inventori rumah sekunder justru menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan rata-rata +5% per bulan sepanjang semester II 2025.
Pertumbuhan ini paling banyak terjadi di wilayah penyangga DKI Jakarta seperti Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Kota Tangerang Selatan, yang masing-masing menyumbang sekitar 8% dari total penambahan inventori rumah seken. Perbedaan tren antara rumah primer dan sekunder mencerminkan dinamika pasar properti, di mana keterbatasan suplai rumah baru membuka ruang bagi rumah seken untuk menjadi alternatif utama bagi konsumen, terutama di kawasan penyangga yang terus berkembang sebagai pusat hunian.
“Kondisi ini diperkuat oleh meningkatnya jumlah listing properti dengan indikasi urgensi penjualan, ditandai dengan penggunaan label seperti Butuh Uang (BU), Jual Cepat, maupun penawaran harga di bawah pasar,” ia menambahkan.
