ASIAWORLDVIEW – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempersiapkan serangkaian perayaan Imlek Jakarta 2026 yang akan digelar di sejumlah titik ikonik di ibu kota. Kegiatan ini akan berlangsung sepanjang Februari hingga awal Maret 2026, mulai dari Bundaran Hotel Indonesia (HI), Monas, Kota Tua, hingga Blok M.
Hal itu diungkapkan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, perayaan Imlek tahun ini dirancang sebagai ruang bersama bagi warga Jakarta yang beragam. Menurutnya, kota ini menjadi rumah dengan berbagai budaya yang hidup damail
“Kami merancang perayaan Imlek Jakarta 2026 sebagai perayaan kebersamaan dalam keberagaman. Jakarta adalah rumah bagi berbagai budaya yang hidup berdampingan,” kata Rano di area Bundaran HI, Jakarta Pusat, Rabu (11/2/2026)..
Menurut Rano Karno, pelaksanaan perayaan Imlek di ruang publik bertujuan agar suasana perayaan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Dengan memanfaatkan lokasi ikonik seperti Bundaran HI, Monas, Kota Tua, dan Blok M, pemerintah ingin menghadirkan pengalaman Imlek yang inklusif dan terbuka bagi semua kalangan.
“Perayaan Imlek Jakarta 2026 di ruang publik diharapkan mampu memperkuat harmoni sosial sekaligus memperlihatkan wajah kota yang ramah terhadap berbagai tradisi,” ia menambahakan.
Baca Juga: Imlek dan Ramadan 2026: Harmoni Dua Perayaan di Pusat Keramaian
Salah satu agenda awal adalah Lomba Dekorasi Imlek pada 12 hingga 17 Februari 2026 di sepanjang Jalan M.H. Thamrin hingga Jalan Jenderal Sudirman. Pedagang, pengelola gedung, dan pengelola area terlibat dalam mendekorasi koridor utama Ibu Kota dengan hiasan bertema Tionghoa.
Di kawasan Bundaran HI, Festival Imlek Jakarta akan digelar pada 13 hhingga 17 Februari 2026. Festival ini menampilkan instalasi lampu, dekorasi bertema, dan pertunjukan seni budaya Tionghoa.
“Bundaran HI akan menjadi pusat perayaan yang dapat dinikmati oleh masyarakat secara terbuka. Kami ingin menyajikan pengalaman Tahun Baru Imlek yang inklusif di ruang publik,” kata Rano.
Pada 13 Februari 2026, Pemerintah Provinsi juga menggelar Jakarta Chinese New Year Symphony di lokasi yang sama. Pertunjukan ini melibatkan lebih dari 50 alat musik Tiongkok dan tarian Selendang Dendang.
“Jakarta Chinese New Year Symphony merupakan simbol harmoni budaya yang hidup di Jakarta. Pertunjukan ini mencerminkan kolaborasi dan persatuan dalam keberagaman,” pungkasnya.
Rangkaian kegiatan berlanjut ke Jakarta Chinese Festival pada 15-17 Februari 2026 di Anjungan Provinsi DKI Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Festival ini menampilkan barongsai, liong, dan instalasi seni bertema sejarah peranakan Jakarta.
