ASIAWORLDVIEW – Indonesia menyerukan kepada negara-negara anggota Developing-8 atau D-8 untuk membangun ekosistem rantai nilai halal. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan blok tersebut.
Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini berbicara di hadapan para pemimpin kelompok D-8 yang awalnya terdiri dari Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki di Kairo. Azerbaijan resmi bergabung sebagai anggota baru pada KTT Mesir. Semua negara ini memiliki populasi Muslim yang cukup besar. Selain mendorong penerapan pakta perdagangan intra-grup yang lebih baik, Indonesia ingin melihat D-8 membangun rantai nilai barang yang diperbolehkan oleh hukum Islam.
“Kita harus menciptakan rantai nilai halal melalui penguatan jaringan ekonomi halal D-8,” kata Prabowo pada KTT D-8, baru-baru ini.
Baca Juga: Mengulik Rancangan Hunian Vertikal Ala Prabowo-Gibran
Menurut Prabowo, negara-negara D-8 diperkirakan akan masuk dalam 25 besar negara dengan perekonomian terbesar di dunia pada tahun 2050 – berdasarkan perkiraan PricewaterhouseCoopers. Pensiunan jenderal angkatan darat ini juga mengklaim bahwa D-8 adalah blok ekonomi terbesar ketiga di dunia dengan gabungan produk domestik bruto (PDB) sebesar USD4,8 triliun pada tahun 2023.
D-8 sudah memiliki perjanjian perdagangan preferensial, meskipun pengurangan tarifnya tidak terlalu signifikan. Indonesia meratifikasi pakta perdagangan tersebut pada tahun 2011. Jakarta saat ini sedang mengincar pakta perdagangan bilateral dengan Kairo.
Indonesia memiliki pasar halal domestik terbesar di dunia, menurut Laporan Pasar Halal Indonesia 2021/2022. Pengeluaran domestik negara untuk produk dan layanan ekonomi halal berjumlah $184 miliar pada tahun 2020, dan berpotensi mencapai $281,6 miliar pada tahun 2025. Indonesia adalah rumah bagi 229,6 juta umat Islam pada tahun 2020.
