Waspadai, Flu Berujung ISPA Tengah Mewabah

Flu

ASIAWORLDVIEW – Masyarakat perlu mewaspadai peningkatan kasus influenza yang dapat menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama varian H3N2 atau “superflu”. Varian ini dikenal lebih mudah menular dan berpotensi menimbulkan gejala lebih berat pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta individu dengan penyakit penyerta.

Kondisi ini diperparah oleh mobilitas tinggi masyarakat menjelang akhir tahun, yang meningkatkan risiko penyebaran virus. Oleh karena itu, penting untuk menjaga pola hidup sehat, memperhatikan etika batuk dan bersin, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala seperti demam, batuk, pilek, atau sesak napas. Kewaspadaan dini dan penerapan langkah pencegahan dapat membantu menekan laju penularan “superflu” di tengah masyarakat.

“Salah satu jadi penyebab istilah ‘superflu’ ini karena penularannya cepat, jadi satu orang itu bisa menulari 2 hingga 3 orang sekitarnya, diperkirakan varian ini mungkin bisa menulari lebih. Tapi belum ada penelitiannya,” sebut anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Nastiti Kaswandani Sp.A(K)

mengatakan masyarakat perlu waspadai adanya peningkatan kasus influenza penyebab infeksi saluran pernafasan akut di antaranya varian H3N2 yang viral dengan istilah “superflu”.

Baca Juga: Limbah Rumah Sakit di Jakarta: Ancaman B3 yang Belum Tertangani Optimal

Istilah “superflu” pada kasus influenza karena penularannya yang cepat terutama di wilayah atau negara yang dingin, bisa berbahaya dengan gejala yang ringan sampai berat karena penularannya melalui droplet atau ludah dari batuk atau bersin serta kontak langsung dengan cairan nafas orang yang terinfeksi.

“Superflu merupakan bagian virus influenza H3N2 dengan varian subclade K yang dicurigai menjadi penyebab naiknya kasus influenza di musim dingin antara Oktober hingga Januari atau Februari. 200 kasus ditemukan dengan melakukan genome sequencing di Amerika dan belahan bumi utara yang terdapat musim dingin di Oktober hingga akhir tahun ini,” ia menambahkan.

H3N2 dikatakan evolusinya tinggi, mudah menular dan bermutasi serta berpotensi untuk menimbulkan epidemi atau kasus influenza massal yang bisa menyebabkan pasien-pasien itu banyak terkena sakit dan harus di rawat rumah sakit yang menyebabkan gelombang kenaikan kebutuhan alat kesehatan maupun obat-obatan di negara-negara dengan winter yang berat atau yang lama.

Gejala influenza H3N2 yang mirip dengan influenza A bisa berisiko tinggi pada kelompok balita dan lansia karena menimbulkan keparahan, kelompok risiko lainnya yakni pasien dengan komorbiditas atau penyakit kronik, penyakit jantung bawaan pada anak dan kardiovaskular pada dewasa, penderita kanker, dan pasien dengan obat yang menekan imunitas.