ASIAWORLDVIEW – PT Garuda Indonesia, kini memprioritaskan program perbaikan dan pemeliharaan armada pesawat setelah menerima suntikan investasi modal sebesar Rp23,67 triliun dari Dana Kekayaan Negara Indonesia, Danantara. Langkah ini menjadi bagian penting dari strategi restrukturisasi perusahaan untuk meningkatkan keselamatan, efisiensi operasional, dan kualitas layanan penerbangan.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, dalam konferensi pers menginformasikan bahwa sebelumnya perusahaan telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk mengakuisisi empat pesawat. Namun, maskapai tersebut hanya akan membeli satu pesawat karena telah membayar uang muka, sementara kedatangan pesawat lainnya ditunda.
“Baru-baru ini, MoU ditandatangani untuk empat pesawat. Kami telah membayar uang muka untuk satu unit, sementara yang lainnya ditunda. Perbaikan tetap menjadi prioritas utama kami. Jika tidak diperbaiki, kami akan terus membayar,” jelas Kairupan.
Baca Juga: Danantara Tegaskan Redenominasi Rupiah Tak Ganggu Iklim Investasi
Dengan dukungan modal yang besar, Garuda Indonesia berupaya memastikan seluruh pesawat dalam kondisi optimal sehingga mampu mendukung jadwal penerbangan yang lebih andal dan memperkuat kepercayaan penumpang. Selain itu, fokus pada perbaikan armada juga diharapkan dapat menekan biaya operasional jangka panjang, memperbaiki kinerja keuangan perusahaan, serta memperkokoh posisi Garuda sebagai maskapai nasional yang kompetitif di pasar regional maupun global.
Dia menambahkan bahwa suntikan dana dari Danantara akan memungkinkan perusahaannya untuk meningkatkan kinerjanya dalam dua tahun ke depan.
“Dana ini memungkinkan kami untuk mengikuti arahan dalam mengatasi tantangan baru. Kami berencana untuk memulihkan kesehatan keuangan kami dalam dua tahun ke depan, sesuai dengan visi pendiri,” ujarnya.
Danantara Indonesia telah menginvestasikan Rp23,67 triliun di Garuda Indonesia, di mana Rp8,7 triliunakan dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja, termasuk pemeliharaan dan perawatan pesawat. Sementara itu, Rp14,9 triliun akan mendukung operasional anak perusahaan Garuda Indonesia, Citilink, terdiri dari Rp11,2 triliun untuk modal kerja dan Rp3,7 triliun untuk melunasi kewajiban pembelian bahan bakar kepada Pertamina untuk periode 2019-2021.
